Tampilkan postingan dengan label Kumparan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kumparan. Tampilkan semua postingan
berani menulis bukti berkarya
Yusuf Arifin, Redaktur Kolaborasi Kumparan. f/Istimewa

Mungkin terhitung baru aku bergelut di dunia pers mahasiswa. Terhitung sepuluh bulan  Selama waktu itu, banyak sekali pengalaman baru yang aku jumpai. Kali ini aku akan mengisahkan pertemuan dengan dua orang lelaki yang sangat ku saluti. Sebut saja lelaki satu, ia termasuk wartawan senior di Indonesia. Namanya Yusuf Arifin, sekarang ia  menjabat sebagai Redaktur Kolaborasi di Kumparan. Mungkin, jika kalian biasa dengan dunia jurnalistik, nama ini sudah tidak asing lagi. Kami bertemu pada sebuah acara yang diselenggarakan Surat Kabar Akmpus Ganto Universitas Negeri Padang. Kebetulan, pada acara Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut Nasional itu, aku diamanahi sebagai anggota humas. Peruntungan selalu tahu jalan pulang, begitu menurutku. Kami bercerita tentang pengalaman hebat yang telah dialaminya. Dilihat dari wajahnya, menurutku ia berusia sekitar 55 tahunan. Rambutnya sudah hampir putih semua. Hal unik dari penampilannya, ia menggunakan kaca mata yang mirip dengan kaca mata Harry Potter dan hanya dengan baju kaos biasa. Apakah kalian tahu? Ia telah bergelut di dunia jurnalistik sekitar 30 tahunan, hampir separuh hidupnya. Keluar masuk penjara pernah dialaminya pada masa orde baru. Di mana ia dulu aktif menyuarakan suara rakyat yang menentang pemerintahan. Tidak hanya itu, bahkan ia pernah dimasukan ke daftar hitam dalam pers Indonesia. Peruntungan, kita sebut saja dengan peruntungan. Peruntungan yang membawanya terpaksa angkat kaki dari bumi Indonesia. Ia menjamah negeri orang, yaitu inggris. Aku lupa nama tempat pastinya, tapi itu di negeri Inggris. Itu yang aku ingat. Ia kembali bercerita kehidupannya di negeri orang. Mulai dari menyesuaikan makanan, sosial dan pekerjaan. Ah, ku rasa tulisan ini tidak cukup mampu menceritakan kehebatan yang dimiliki lelaki satu ini. namun, hal yang sebenarnya ingin aku sampaikan adalah tak ada sedikitpun terasa menggurui saat mengobrol dengannya. Tak ada kesombongan yang tampak, padahal ia telah melewati hal yang sangat luar biasa menurutku. Di sini aku tersadar, manusia pada hakikinya jika ia telah menduduki kursi atas takkan ia mendongkak ke atas melainkan melihat ke bawah, hanya saja kebanyakan dari manusia, ia merasa seolah-olah telah berada di atas dan sombong juga angkuh atas apa yang milikinya. Mereka yang sejatinya telah menjadi orang hebat takkan sombong, kecuali kau hanya merasa sok hebat.

berani menulis bukti berkarya aku tak menginginkan hal yang muluk menurutku sebenranya aku ingin menjadi pusat seperti dia mempunyai beribu ...