Ini tentang menunggu tanggung jawab. Bukan perihal saya, dia, kamu, dan mereka. Tapi siapa yang ingin bergelut dengan kebenaran? Setelah lempar-melempar menjadi hal yang lumrah untuk sekedar dimaafkan. itu kata mereka, saya setuju dan tidak. Menghitung jerih dan keringat yang keluar. Membandingkan satu dengan yang lainnya. Saya di atas dan kamu di bawah tergeletak lesu, katanya. Dia tidak melihat peluh yang keluar dari ujung saku terkoyak.
Tampilkan postingan dengan label lelah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lelah. Tampilkan semua postingan
Aku letih
Berhenti lelah. Sekarang bukan saatnya bermanja-manja. Ini sulit. Ya sangat Suli. Belum lebih dari 7 hari dalam seminggu, aku sudah menyerah. Bukan menyerah, tepatnya sedikit merasa letih. Bolehkah? Seharusnya tidak. Ini bukan pasar tempat tawar-menawar. Bukan karena merak kejam. Namun, harus ada harga pembayar kata komitmen. Berjuang dan terus belajar hingga titik yang dituju nampak dengan jelas. Bukan remang-remang, tapi jelas. Jelas hitam dengan putih yang ada
Langganan:
Postingan (Atom)
berani menulis bukti berkarya aku tak menginginkan hal yang muluk menurutku sebenranya aku ingin menjadi pusat seperti dia mempunyai beribu ...
-
Berhenti lelah. Sekarang bukan saatnya bermanja-manja. Ini sulit. Ya sangat Suli. Belum lebih dari 7 hari dalam seminggu, aku sudah menyerah...
-
Hujan sore ini membawa pulang kenangan kemaren Segores luka kembali terbuka Menganga lebar Hai hujan sore ini Kenapa engkau baw...
-
Entah namanya serakah atau serapah Belum genap 6 bulan Bahkan kartu merah belum ditangan Resah Lelah Ah, sudah lah Pandemi lari ia berhambur...