selamat ulang tahun untuk diriku
20 tahun sudah hidup dan menghabiskan makanan yang ada di bumi

terhitung 20 tahun yang lalu, apa itu daun dan ranting aku tidak tahu
apalagi ditanaya perbedaan putih dan hitam
semua sama dan baru

20 tahun
entah apa yang sudah kucapai untuk diriku dan kalian
jika dihitung, sudah beraus kilometer jejak yang ke telusuri bersama kakiku

terimakasih mamaku yang bersusah payah melahirkanku
bahkan membesarkanku hingga 20 tahun ini

berani menulis bukti berkarya

Ojek

Dia seorang teman. Tidak sempat mengenyam Dunia perkuliahan, tapi Ia dengan bangga menceritakan terkait kakaknya yang kuliah di salah satu perguruan tinggi ternama di Kota Padang. Ceritanya mengalir sepanjang jalan dari SMA DEK Kota Padang hingga lapangan imam Bonjol. Adiknya, ternyata juga berkuliah di salah satu universitas ternama di Indonesia.    Tapi, ia seorang tukang ojek. Entah apa alasan yang menyebabkan ia tidak berkuliah. Ternyata perjalan panjang itu tidak cukup panjang untuk menceritakan kisahnya.
Pesannya singkat dan menusuk sebelum perpisahan. "Semangat kuliah ya. Hati-hati di jalan".
Aku sadar aku beruntung dan akan semangat kuliah

Belajar

Karena semuanya butuh belajar
Entah itu dia, kamu atau aku
Entah saat sekarang, dulu, atau nanti
Entah dalam suasana di atas, bawah atau tengah

Ketika kita (kamu, aku dan dia) memutuskan berhenti dan berpaling dari belajar, di situ lah duniamu akan berhenti dan tak berputar
Kita (kamu, aku dan dia) akan menjadi teman si katak di dalam tempurung

Seolah tahu isi bulat dalam lingkaran dan sisi mana yang lebih lancip

Karena aku tidak mau seperti mereka
Mengupload foto sesukanya
Berpergian hanya untuk selfi

aku dan maluku

aku dan maluku
dan sekarang aku sedang malu
ini adalah kotoran yang dulu ku cacimaki dengan keras
sekarang aku terjatuh terjerembab ke dalamnya
menyedihkan memang
aku tak bisa keluar setelah ini semua
hanya perasaan makin menyelam lebih dalam yang kutemukan
ah
sesal ini tak berujung
seharusnya aku kembali setelah langskah pertam dan berbalik menutup intu
sial memang
aku terlalu takut memutar arah dan perpaling dari hal keji
apakah aku harus pindah planet?


berani menulis bukti berkarya

Aku rindu

Ini adalah tentang sebuah rindu yang tak bisa ku kabarkan pada siapapun.
Pada mama
Pada uni
Maupun teman karibku

Rindu ini amat pilu, menusuk tajam ke hulu hati siang dan malam
Sangat ingin bertemu, memeluk dan menyanjung cinta untuk bersama
Aku rindu
Rindu pada papa

Tak bisa ku kisah kan pada mama, ini karena entah rindu siapa yang lebih banyak...
Pada teman karib, karena ia bernasib sama, aku tak ingin menambah luka nya
Aku rindu
Rindu pada papa

Padang panjang

Aku menjejaki kota kabut itu lagi
Bertemu semilir angin dingin
Dan kabut yang semakin tinggi

Aku ingin lebih lama berada di sini
Bermain bersama lelah mengelilingi tiga gunung penjaga Padang panjang

Senja ku

Aku ingin mengadu pada senja
Tentang kisah dia yang membenci diriku
Aku ingin bercerita pada senja
Terkait segumpal darah yang membisu

Senjaku diujung waktu
Lihatlah mereka yang menertawakan langkahku
Senja
Hantarkan aku ke pulau kapuk yang jauh

Sesal

Ini adalah pelajaran
Karenanya aku tidak akan mengulang atau mencoba hal ini lagi
Malu
Iya, aku sangat malu
Pada diriku, dia dan Allah
Aku ingin mencari mesin waktu
Kembali ke masa awal aku akan memulainya
Ingin terhindar dan berbalik
Sehingga sesal yang panjang tidak terjadi

Nasihat untuk kalian yang belum mencoba
Tidak semua hal harus disesapi
tidak semua perkara harus diselesaikan dengan cara pintas
Pikirkan dulu kalian kaum muda
Agar hilang sesal dan sesak di dalam jiwa

Karena ini adalah perkara tentang bersama
Bukan hanya kamu dan dia saja
Tapi juga kami dan mereka
Jangan sampai hati ternodai
Karena cara singkat dan licik yang dilalui

Bukittinggi
16 Mei 2018

Penyampaian informasi

Seharusnya kalian tahu, saya bukan penyelenggara acara. Pengunduran, pembatalan, dan pelaksanaan acara saya tidak tahu jelasnya. Saya hanya penyampai kabar sepotong agar bisa engkau teruskan dan lengkapkan. Tolong, jangan terlalu banyak menuntut apalagi mencaci seolah saya adalah panitia acara. Tanya saja mereka, kenapa ada kelalaian. Karena aku hanya penyampai sepotong informasi

Kemenangan

Aku akan berpegang pada kata 'Mari menuju Kemenangan' yang dilandaskan lima kali sehari. Aku akan percaya itu dengan segenap hati. Hingga perubahan akan terlihat dan dapat dirasakan.

Welcome back

Aku sudah lama berhenti membuat kata-kata galau. Berhenti menjadi penyair yang merangkai satu dua kata yang tercecer. Ah, tapi ini tidak lama. Hari ini mulai lagi dan berawal. Welcome back saja. Dan nikmati apa yang akan terjadi

Lagi

Sampai sekarang air mata itu masih keluar
Entah karena sakit lama atau pengetahuan baru
Ia masih mengalir
Menjemput duka yang kian mendalam dan perih
Hai sedih, pulanglah

Ambisi

Aku menemukan ambisiku dulu pada dirimu yang sekarang. Ia berapi-api bergejolak siap melahap ilalang kering kerontang di Padang rumput. Bukan cuma satu, beribu bahkan berjuta gagasan muncul dan siap melompat keluar bagai harimau melihat anak kancil. Ah, itu ambisiku dulu. Kini ia telah hilang tersesat dalam hutan ketakutan.

Aku ingin bertanya. Apakah ambisiku sekarang akan seperti ambisiku sekarang?
Siapakah yang bisa menjawab tentang ambisi ini?

Memerlukan matamu

Aku memerlukan matamu
Bukan sekedar meminta kata cantik untuk bajuku
Atau sekedar menilai manis topi baruku

Aku memerlukan matamu
Yang dapat menjelaskan padaku perkara salah yang aku kerjakan
Rinci dari atas hingga bawah

Aku memerlukan matamu
Yang akan membenarkan salah
Namun hati tidak luka mendengar nasihat kasar

Kemaren, nanti, dan besok
Aku memerlukan matamu

Terima kasih

Aku hanya bisa berkisah padamu layar kosong
Mengeluhkan hal yang telah berlalu
Mencari makna tersembunyi dalam kelabu
Menanti arti panjang dalam kisah ku yang singkat

Aku hanya bisa bercerita padamu layar kosong
Mencurahkan rasa sakit yang makin mendalam
Mengikis dendam yang tebal
Menangkis setiap tetesan luka yang makin melebar

Layar kosong
Terima kasih dengan kerja kerasmu mendengarkan
Terlebih setelah dua tiga perkara yang menusuk jantung

Image result for karikatur sedih
f/Istimewa
kesidahan ku adalah kesedihan yang tak beralasan

Kini aku sadar sia-sia itu benar adanya. Terlebih setelah anganku terbang terlalu jauh. Hingga lupa bagaimana rasa menginjak tanah. Salahkah angan ini? siapa yang harus aku salahkan? Ini bukan salah dia yang menjadi permaisuri dalam diam. Apa yang dia lakukan tidak salah sama sekali. Karena ia bermain dalam hidupnya dan berdiri atas dirinya.
Aku ingin menangis hingga berteriak. Berteriak kepada alam dan dinding yang putih. Lihatlah diriku yang diam dan takut menghadapi luka lama. Ah, sedihnya. Bukan, ini pasal menyedihkan akan ketakutan. Menyedihkan ketika cinta hanya bertepuk sebelah tangan dan hilang dalam diam.

Jika ia hilang tak masalah. Yang menjadi perkara adalah bias luka yang semakin menganga tanpa arah dan bergerak bebas seperti partikel. Aku menemukan kata baru, partikel luka yang bergerak bebas dalam relung hati kecil dan gelap. Tiap benturan terasa sakit dan pilu. Sampai sekarang masih sakit dan pilu.


berani menulis bukti berkarya

Nyanyian

Aku semakin terombang ambing dalam kesakitan. Hal ini nyata adanya. Semakin menusuk dan dalam.

Bagaimana caranya agar diriku dipeluk oleh semesta. Aku butuh nyanyian rindu ini. Rindu yang dalam

Tiap detik

Aku sudah berkata 'tidak' pada diriku sendiri dan kalian. Tapi, sakit itu masih ada ketika tahu keaslian yang terpapar. Aku akan menarik kesimpulan baru. Selama ini, aku hanya bermain di dalam pikiran sendiri untuk menenangkan diri namun gagal. Benar rasa sesak itu masih ada. Apakah aku harus pergi atau dia. Aku ingin pindah ke lain hati. Hati yang benar-benar kosong untuk diriku. Kenapa dulu ia hinggap? Hai capung, janganlah kau sembarang hinggap. Rasa ini sakit terlebih karena kenangan yang sempat terbuat. Aku ingin menghapus seluruh luka, namun diriku belum kuat menghapus semua kenangan yang membuatku hampir mati ini. Aku berharap ada ruang pemisah antara luka dan suka. Rasa suka ini merajut luka setiap detiknya. Tusukan jarum luka ini sangat sakit.

Debu

Suatu hal yang mahal tidak bisa dibeli dengan uang. Kepercayaan. Semakin lama aku merasa hal itu hilang dari diriku. Entah bagaimana caranya agar ia datang dan menghujani ku lagi. Aku rindu aku yang dulu. Yang diberi banyak kepercayaan dan semangat. Aku sekarang hanya sebutir debu yang menumpang terbang pada angin

Puisi mu

Kini aku tahu kepastian dari puisi mu selama ini. Sedih memang, tapi itu pilihanmu untuk menentukan kepada siapa puisi itu berlabuh. Sakit tidak, karena sejatinya aku tahu itu bukan aku. Selamat saja untuk wanita penerima puisi mu. Ia berhasil melumpuhkan hati dan pikiran mu.

Malam kemaren

Biarlah ini jadi satu dari perjalanan panjang seperti hari-hari kemaren. Yang tidak ada menghadirkan rasa apa lagi cinta.

Biarlah ini jadi satu dari perjalanan panjang seperti hari-hari sebelumnya. Yang kosong tanpa bicara antara kita.

Biarlah ini jadi satu dari perjalanan panjang seperti hari-hari kemaren. Menjadi cerita mati ditemani angin penjemput subuh

Kamu

Aku akan tetap menunggu dengan memperbaiki diri. Menjaga hati ini susah, terlebih ketika godaan berdiri di depan mata.

Aku hanya akan diam dan memperbaiki diri. Entah itu untuk kamu, kamu, atau kamu yang lainnya.

Terima kasih telah mengingatkan

Teman

Dia adalah laki-laki bernama teman. Katanya lumayan bijak jika ditanya. Satu hal yang sangat ku kagumi padanya, ia tidak akan berkata tidak jika itu melukai.

Hujan 2

Hujan sore ini
membawa pulang kenangan kemaren
Segores luka kembali terbuka
Menganga lebar

Hai hujan sore ini
Kenapa engkau bawa ia kembali
Kembali mengulang sakit hati
Yang pasti telah terjadi

Hai hujan sore ini
Berhentilah turun ke bumi
Pergi kembali pergi
Bersama kenangan sore ini



berani menulis bukti berkarya

Kesendirian


Hidup dalam kesendirian itu sakit. Sehari-hari berkawan sepi itu perih. Andai mereka tahu, sebelum kesendirian ini tak bisa ditemani, maka mereka tak akan menyia-nyiakan kesempatan bermain bersama orang lain. Entah itu sekedar tegur sapa, saling menukar senyum atau bercanda dan bertengkar.
Seperti ada luka yang terbentuk dalam dan makin mendalam. Luka yang tak bisa dijamah oleh kasa pembalut atau obat merah dan pereda perih. Ia akan semakin menganga dan makin besar seiringan detak jarum jam. Bukan hitungan perjam atau menit, melainkan tiap satuan detik akan semakin menganga.
Lagu korea tak mampu menjadi penghibur dalam kesendirian. Coklat yang kata mereka mampu membawa suasana senang pulang, tak berkerja dalam kesepian. Kesendirian dan kesepian adalah dua perihal yang tak ada obat di dunia kecuali tidur.

Padang, 05 Marer 2018

                                                                                                                                                          20:54

Aku

Ini berawal dari seorang teman menanyakan apa sebenarnya yang aku inginkan. Ia berpendapat, aku adalah pribadi yang tertutup, jarang bergaul dengan sesama. Berkali-kali ia menanyakan tipe teman seperti apa yang aku ingin dekati. Pasnya, tipe apa yg bisa menjadi teman baikku.
Sebenarnya, aku tahu maksut perkataannya. Aku adalah orang yang tidak bisa berbagi kepada siapapun. Bahkan, terkadang sikapku menunjukkan antisosial, tidak mau bergaul dengan teman dan pilih-pilih dalam berteman.
Aku bukan tipe yang sulit diajak berbicara. Sekali sudah terbuka, ribuan kata akan meluncur tanpa henti, hingga pendengar jenuh dan kesal. Masalah yang aku punya, tak semua orang ku izinkan menjadi pendengar ku. Aku akan memilih yang aku sukai saja.
Aku tahu ini pribadi introvert. Aku tidak ingin mengubahnya, agar kalian tahu, susahnya mendapatkan aku ketika itu telah kau lepas

Singa Kecil

Image result for kartun singa
f/Istimewa


Tidak peduli tentang orang di sekitar
Atau  bagaimana cara dunia ini berkerja
Menunggu bertanya
Pertanyaan yang akan diajukan orang dewasa
Keingintahuan mengenai dunia
Kesedihan kebahagiaan orang di sekeliling
Beri waktu lagi menunggu dewasa

Berhenti

Ketika sepi datang carilah keramaian untuk menghilangkannya


Aku kan berhenti berharap kepadad siapaupun, kecuali Allah
Aku ingin memutuskan tali lama dan menggantinya dengan tali baru
Bolehkah?
Beritahu akku satu jalan untuk mencapainya
Entah aku disebut korban atau tersangka
Kali ini aku hanya ingin bernafas dengan lega
Aku sudah bosan menghakimi orang lain
Kapan aku bisa ikhlas menghakimi diri sendiri?

Sekali lagi, beri aku jalan!





berani menulis bukti berkarya

Mereka

Ini kembali ke kisah aku, kamu dan mereka. Tapi, kisah kali ini kamu bukan spesial seperti dukun kamu sama dengan mereka. Yang akan melengkapi satu tambah satu yang kita punya. Sekarang itu saja. Selamat malam

Kucing Keramat


Image result for karikatur kucing
f/ Istimewa



Aku tidak mencintainya. Aku tidak menyukainya. Aku juga tidak mengaguminya. Saat itu, aku hanya melihatnya sebagai kucing kecil yang terlantar. Aku memang memberinya rangkulan hangat yang kalian artikan sebagai kekasih. Tapi, bukan itu maksudku. Hanya sebagai penolong yang mencoba membuat ia tetap hidup.

Kalian, yang biasa menyebut diri pribumi, menganggap aku mencuri kucing kecil keramat itu. Padahal, aku hanya menolong kucing kecil yang kakinya terluka di pinggir jalan. Tak lebih dari itu. Kalian mengencam kata penjara kepadaku jika aku tak mengaku. Pencurian itu tidak pernah terjadi. Pada dasarnya, aku tak sengaja menemuinya.

Aku tidak keberatan mengembalikan kucing kecil keramat itu. Namun, aku sangat tidak suka dengan tudingan yang kalian berikan. Tingkah kalian membuat kucing itu takut kepadaku. Bahkan, sekarang kucing yang dulu tinggal bersamaku itu lari ketakutan jika mendengar langkah kakiku baru memasuki ruangan.

Terima kasih pribumi. Ini balasan setelah aku merawat kucing keramat kalian


berani menulis bukti berkarya

Sore ini di sini

Ini tentang menunggu tanggung jawab. Bukan perihal saya, dia, kamu, dan mereka. Tapi siapa yang ingin bergelut dengan kebenaran? Setelah lempar-melempar menjadi hal yang lumrah untuk sekedar dimaafkan. itu kata mereka, saya setuju dan tidak. Menghitung jerih dan keringat yang keluar. Membandingkan satu dengan yang lainnya. Saya di atas dan kamu di bawah tergeletak lesu, katanya. Dia tidak melihat peluh yang keluar dari ujung saku terkoyak.

Selesai

Sahabat sebelah mengatakan, aku bukan takut jatuh cinta, Tapi takut patah hati, karena itu aku menutup hati.

Belakangan ini aku telah membuka sedikit celah. Ku izin kan rasa itu masuk secara perlahan. Aku yakin, pada saat itu, aku akan merasakan hal terbaik dari dia yang kini hilang. Aku mempercayai dia akan menghilangkan rasa takut pada diriku. Salah, dia hanya mengingatkan ku akan ketakutan itu harus ada. Tidak ada hiburan dan tawar-menawar. Kini aku akan menutup hati, tanpa terkecuali pada siapapun. Tidak, dia, dia, dan kamu.

Hari ini

Dulu, kita juga sering kayak gitu. Saling komen status, sekedar sapa kabar, saling menyemangati, berbagi kisah hari ini. Aku sempat terbang dan tak ingin kembali ke bumi. Namun, sekarang kita sudah jauh. Bahkan untuk sekedar tanya kabar tidak pernah lagi. Tapi kini aku tahu, kau berlaku seperti itu tidak hanya padaku seorang. Aku mendapat kabar yang sama dari dia. Aku hanya terlalu berharap kepada seseorang yang belum tentu siapa dia untuk ku. Hal yang dulu kita lakukan kini berganti menjadi hal yang sekarang kau lakukan dengan dia. Untuk waktu yg lebih panjang, ku rasa akan ada dia kedua, ketiga dan seterusnya. Sekarang aku tahu dan berhenti. Selamat tinggal

Prasangka

Aku tidak akan berprasangka lagi. Entah itu baik atau buruk. Mungkin memang harus bertahan agar rindu itu tahu posisi dan hilang selamanya. Ini bukan perihal satu dua hari, masih panjang jalan yang harus ditempuh. Takkan bisa dilalui jika sendiri. Aku butuh dia, kamu, dan mereka. Prasangka buruk itu harus hilang. Tapi, untuk kalian itu terserah. Aku hanya bisa tersenyum

catatan ketika aku GALAU


Sekitaran pukul 11.33 tadi, aku mencoba menghilangkan jenuh tugas yang menumpuk dengan menjejaki rak buku SKK ganto. Membolak-balik satu tua tiga buku untuk mencari judul yang pas untuk menemani jenuh siang ini. Hampir setengah jam, aku berdiam dalam salah satu buku novel remaja menurutku. Bukan karena penulisnya remaja atau bagaiman, bagiku novel yang membahas cinta dalam khayalan adalah novel remaja. Ketika si tokoh utama mengagumi lelaki yang ia rasa tidak pantas atau sebanding dengannya yang kemudian akan meminangnya secara langsung pada waktunya. Mungkin, sebagian kalian tidak setuju dengan konsep ini, tapi bagiku tetap itulah kisah cinta remaja. Bukan berarti aku menunnafikan bahwa hal itu indah dan ada di kehidupan sehari-hari, tidak. Hanya saja bagiku hal itu adalah kisah cinta yang terlalu sempurna dan tidak bisa didapat oleh sembarangan orang dan hanya hidup dalam imajinasi remaja. Aku tidak menuntut kalian untuk setuju ataupun mendeoat pendapatku, hanya saja itiu pandanganku.
Di sini aku ingin menyuarakan suara yang tak bersuara ini. Entah kenapa, membaca buku itu hanya membuatku galau. Dari jenuh pindah ke galau. Bukan karena aku juga memiliki kisah galau seperti itu. Tidak. Hanya saja, galau saja.

Kemudian aku berfikir, apa penyebab galau ini? apakah buku ini? cerita ini? atau hal lain yang tidak dapat ku lukiskan dalam kata untuk kalian yang membaca. Entah lah. Mungkin ini hal yang tidak terlalu penting. Aku hanya ingin menyampaikan “ AKU GALAU”
berani menulis bukti berkarya

Hilang

Kepingan itu hilang lagi. rasanya makin berkurang dari hari ke hari. Entah kepada siapa pesan akan dikirimkan. Surat sudah menumpuk sejak ribuan tahun yang lalu. kemaren berkata tidak, karena saya tidak bisa berkata iya. ah, malasnya, sebal terhadap diri sendiri. Permainan ini persoalan hati. Entahlah, banyak yang buram. Semakin hari semakin sakit dan hilang rasa percaya diri. Ini akan beujuuke nistaan atau pada hal bahagia? Semalam semakin parah, luka kecil tergores ulang.

Sembunyi

Pertengkaran terjadi  di dalam diri sendiri. Selayaknya ia tahu, bang dirinya tak dapat memiliki secara utuh. Sampai kapan pun. Sekali pun ia telah resmi menjadi pendamping hingga akhir. Pada dasarnya, ia akan menjadi milik ibunya. Bukan dirimu. Berlainan hal dengan dirimu yg akan menjadi miliknya. Seratus persen tanpa kurang satu bagian pun. Tiliklah, sekarang dimana posisi dia dan dirimu. Siapa dia bagimu dan siapa dirimu baginya. Dia punya umum, untuk sekarang itu saja. Jangan pernah berharap atau memikirkan akan merantai ya dengan belenggu keegoisan. Dirimu hanya pecinta yang tersembunyi

Rindu dan sepi

Kesepian dan kerinduan adalah dua sisi mata uang yang sama. Begitu kata Jostein Gaarder dalam putri Sirkus-nya. Aku percaya dan setuju. Ketika rindu itu datang, kesepian akan menyapa dengan lembut. Namun, mereka berjanji untuk berkunjung. Lihatlah rindu, ia berani menunjukkan diri secara terang-terangan, mengutip kata dalam kehidupan sehari-hari nya. Berbeda dengan kesepian. Datang dengan diam, duduk di sudut ruangan dengan tangan dan kaki terdekap. Kasihan sepi ini. Bukan ia tak ingin menampakkan diri, tapi hadirnya selalu dibenci

Merah

Aku tidak membutuhkan warna biru
Cukup hitam, merah, dan putih ini
Aku akan bersyukur dengan sepenuh hati
Menanti bersama ujung akhir

Kelas awal

Kelas mata kuliah umum Bahasa Indonesia.
Lucu, banyak kesalahan umum yang dimaafkan oleh masyarakat sendiri. Berbicara dengan bahasa sendiri memunculkan banyak cerita lucu. Padahal sudah lebih 13 tahun bahasa ini diperdengarkan ke telinga. Aneh, masih saja salah. Namun lebih mirisnya, kesalahan tersebut dimaafkan tanpa tanda bagai dimaklumi saja. Kasihan guru bahasa Indonesia, katanya. Berjuang untuk hal yang ditiadakan bersama.

Awal lagi

Ini tentang kisah lama yang akan berulang. Aku lupa bagian awal dan akhir yang memiliki klimaks mustahil. Pemeran utama susulan disiapkan dengan dandanan yang menawan. Akankah cerita akan berujung tragis??

Duka

Andai dapat ku kabarkan duka yang ada dalam relung hati ini. Aku hanya berandai agar ada yang mengerti. Urungkan lah. Akan ku urungkan karena ku tahu duka yang tersimpan bukan untuk dikabarkan pada angin malam

berani menulis bukti berkarya
Yusuf Arifin, Redaktur Kolaborasi Kumparan. f/Istimewa

Mungkin terhitung baru aku bergelut di dunia pers mahasiswa. Terhitung sepuluh bulan  Selama waktu itu, banyak sekali pengalaman baru yang aku jumpai. Kali ini aku akan mengisahkan pertemuan dengan dua orang lelaki yang sangat ku saluti. Sebut saja lelaki satu, ia termasuk wartawan senior di Indonesia. Namanya Yusuf Arifin, sekarang ia  menjabat sebagai Redaktur Kolaborasi di Kumparan. Mungkin, jika kalian biasa dengan dunia jurnalistik, nama ini sudah tidak asing lagi. Kami bertemu pada sebuah acara yang diselenggarakan Surat Kabar Akmpus Ganto Universitas Negeri Padang. Kebetulan, pada acara Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut Nasional itu, aku diamanahi sebagai anggota humas. Peruntungan selalu tahu jalan pulang, begitu menurutku. Kami bercerita tentang pengalaman hebat yang telah dialaminya. Dilihat dari wajahnya, menurutku ia berusia sekitar 55 tahunan. Rambutnya sudah hampir putih semua. Hal unik dari penampilannya, ia menggunakan kaca mata yang mirip dengan kaca mata Harry Potter dan hanya dengan baju kaos biasa. Apakah kalian tahu? Ia telah bergelut di dunia jurnalistik sekitar 30 tahunan, hampir separuh hidupnya. Keluar masuk penjara pernah dialaminya pada masa orde baru. Di mana ia dulu aktif menyuarakan suara rakyat yang menentang pemerintahan. Tidak hanya itu, bahkan ia pernah dimasukan ke daftar hitam dalam pers Indonesia. Peruntungan, kita sebut saja dengan peruntungan. Peruntungan yang membawanya terpaksa angkat kaki dari bumi Indonesia. Ia menjamah negeri orang, yaitu inggris. Aku lupa nama tempat pastinya, tapi itu di negeri Inggris. Itu yang aku ingat. Ia kembali bercerita kehidupannya di negeri orang. Mulai dari menyesuaikan makanan, sosial dan pekerjaan. Ah, ku rasa tulisan ini tidak cukup mampu menceritakan kehebatan yang dimiliki lelaki satu ini. namun, hal yang sebenarnya ingin aku sampaikan adalah tak ada sedikitpun terasa menggurui saat mengobrol dengannya. Tak ada kesombongan yang tampak, padahal ia telah melewati hal yang sangat luar biasa menurutku. Di sini aku tersadar, manusia pada hakikinya jika ia telah menduduki kursi atas takkan ia mendongkak ke atas melainkan melihat ke bawah, hanya saja kebanyakan dari manusia, ia merasa seolah-olah telah berada di atas dan sombong juga angkuh atas apa yang milikinya. Mereka yang sejatinya telah menjadi orang hebat takkan sombong, kecuali kau hanya merasa sok hebat.

Kesalahan

berani menulis bukti berkarya

Anggap saja ini tempat yang disebut taman syurga di UIN Imam Bonjol Padang, Sumtra Barat.


Bukan salah siapa-siapa ketika kegagalan datang menyapa lembut. Hakikinya, kegagalan itu membantu terbukanya pintu keberhasilan yang sempat terkuknci rapat dan tersegel balok takut. Jangan tanya siapa-siapa apakah harus ada pengulangan untuk sebuah kegagalan. Karena sejatinya, tidak ada jawaban yang pas kecuali mengulang kembali hingga keberhasilan yang hakiki datang kembali dan menyelimuti tidur malam. Cobalah terus, lagi, lagi, dan lagi. Bukan Allah tidak sayang akan prestasi yang akan diraih nanti. Hanya saja Allah ingin engkau lebih mengetahui arti dari proses dan perjuangan. Allah ingin engkau berlama-lama ada pada situasi tersebut, karena Allah ingin engkau mempelajari lebih banyak lagi ilmu dan pengalaman padanya.
berani menulis bukti berkarya

Gebyar SKK Ganto UNP


Ini cerita hampir setahun yang lalu. Mei menjadi saksi nyata tentang komintmen yang baru diukir di awal perjalanan. Berawal dari coba-coba semata, untuk mencari jati diri yang terpendam katanya. Tak pernah ukiran ini dikhususkan untuk memasuki pameran internasional. Hanya rasa penasaran yang membantu kaki melangkah dan menapaki jejak satu demi satu. Ingin mencari teman baru, kenalan baru, link atau apapun namanya untuk menyambung hidup di negeri orang yang nun jauh di rantau. Bahkan, dulu terbesit ini hanya menjadi tempat pelarian saja. sekedar tempat untuk alasan ketidakhadiran di kelompok yang menyebalkan. Namun sekarang beda, walaupun aku belum seutuhnya menemukan keaslian yang diincar di sini, aku akan tetap bertahan dan berkembang. Kata seorang teman, bertahan itu hal yang mungkin bisa dilakukan oleh orang umum, namun untuk berkembang, butuh kebijakan dan skill serta keyakinan. Entah ini stasiun yang lama untuk berhenti atau tidak, aku akan bertahan dan mencari apa yang hilang.

Mengulang Cerita lama

berani menulis bukti berkarya

Apakah senyumku terlihat dalam kegelapan cahaya? aku ingin kalian tahu, aku TERSENYUM. 


aku hanya ingin menjelaskan kembali apa yang engakau salah dalam mengerti. Ini bukan tetang perasaan yang lama terpendam dan tidak kesampaian. Jangan salah, ini bukan hari untuk itu. aku hanya akan menjelaskan sekali lagi apa arti getaran yang telah terjadi. bukan aku menjadi pengagum rahasia dengan catatan itu. kemarin, ketika pertanyaan itu muncul, aku tak bisa berkata akau punya. aku tak ingin ada kesalahan baru yang akan muncul dan memercikan dosa besar di dalam hati. mungkin, bukan denganmu, getaran itu milik yang lainnya. kuharap kau mengerti.

Seulah Kisah Aku

berani menulis bukti berkarya

Interkom yang sanggup bertahan hingga Mubes SKK Ganto UNP 2018. Kami saudara satu Interkom. Selama amanah kepengurusan masih di pundak, hal itu takkan pernah berybah walau sedikit pun. itu sudah menjadi pegangan hingga akhir. adalah harga mati yang ditawarkan, Kamis (4/1/2018). f/ Fauziah Rey

Aku akan mulai menyusun tangga yang pernah jatuh itu. Mengukir kembali dengan pena sisa yang telah habis dikikis peruncing tajam. Awalnya, ku sangka kepercayaan akan habis sampai di sini saja. Sudah cukup dengan semua dusta yang telah ada. Tapi, kali ini aku salah dalam menerka hujan yang akan turun. Ini ketiga kalinya akau memikul beban yang susah, namun pasti bisa ku kerjakan dengan kemampuan yang akan semakin terasah. Entah pantas atau tidak, aku tak lagi ingin berfikir itu. Sekarang ini ranahku, jangan kalian jamah dengan sembarang tanpa izin penuh dariku. Bukan aku ingin menjadi raja di atas raja, hanya saja agar kalian tahu siapa aku yang sebenaranya. Agar batas yang buram itu makin terlihat dengan mata telanjang. Aku si mata dua akan berdiri dengan tiang kepercayaan kalian., maka bantu akau agar bertahan dalam terpaan badai yang menghadang.

Aku dulu peenah

Aku pernah berharap menjadi dia dalam setiap tulisanmu. Menjadi rindu tempatmu pulang ketika lelah. Aku pernah sangat ingin hadir di balik jiwamu yang hangat. Di tempat kau meletakan satu kata yang bernama hati. Aku ingin, kotak itu hanya untuk aku seorang.  Menjadi ratu dan raja dalam dirimu.

Setelah ku ingat lagi, itu hanya inginku dulu. Aku memang pernah ingin, tapi bukan keinginan sekarang yang harus terwujud

Suara yang Tak bersuara

Jangan biarkan kenangan itu terhapus dengan air pantai yang tidak bersalah. tungggu saja akan kehening yang datang.




Aku berbohong. Getaran itu sebenarya ada. Lebih dari apa yang bisa disuarakan. Jangan tanya kapan ia muncul. Apa lagi seberapa besar percikan api yang akan berkobar. Lebih, sangat lebih dari apa yang ada. Bukan hanya ketika berdua saja. Keramaian pun membawa angan ke mimpi nun jauh di sana. Sekali, dua kali, bahkan berkali-kali ia muncul dan hinggap. Tapi, aku berusaha membuang sejauh-jauhnya. Mengatas nama kan keluarga yang membawa semua kestabilan menuju ke alam nyata. Bukan kali ini, sudah ku katakan berkali-kali. Entah ketika berbohong itu baik atau tidak. Aku hanya mencoba mencari titik aman untuk melirik dan menyadarkan diri untuk sementara. Aku tidak marah dengan ucapanmu yang menyakitkan itu. Sungguh, aku tidak marah. Andai engkau tahu, aku sangat berterima kasih, namun tidak sampai meluncurkan kata itu keluar. Maaf, sekali lagi maaf. Kata ini tertuju pada Allah yang seharusnya ku pertimbangkan dalam setiap pertimbangan. Biarkan suara yang tak dapat disuarakan itu menjelma menjadi tulisan yang dapat dibaca ini. Ini rahasia antara tinta dan kertas saja.



berani menulis bukti berkarya aku tak menginginkan hal yang muluk menurutku sebenranya aku ingin menjadi pusat seperti dia mempunyai beribu ...