selamat ulang tahun untuk diriku
20 tahun sudah hidup dan menghabiskan makanan yang ada di bumi
terhitung 20 tahun yang lalu, apa itu daun dan ranting aku tidak tahu
apalagi ditanaya perbedaan putih dan hitam
semua sama dan baru
20 tahun
entah apa yang sudah kucapai untuk diriku dan kalian
jika dihitung, sudah beraus kilometer jejak yang ke telusuri bersama kakiku
terimakasih mamaku yang bersusah payah melahirkanku
bahkan membesarkanku hingga 20 tahun ini
berani menulis bukti berkarya
Ojek
Dia seorang teman. Tidak sempat mengenyam Dunia perkuliahan, tapi Ia dengan bangga menceritakan terkait kakaknya yang kuliah di salah satu perguruan tinggi ternama di Kota Padang. Ceritanya mengalir sepanjang jalan dari SMA DEK Kota Padang hingga lapangan imam Bonjol. Adiknya, ternyata juga berkuliah di salah satu universitas ternama di Indonesia. Tapi, ia seorang tukang ojek. Entah apa alasan yang menyebabkan ia tidak berkuliah. Ternyata perjalan panjang itu tidak cukup panjang untuk menceritakan kisahnya.
Pesannya singkat dan menusuk sebelum perpisahan. "Semangat kuliah ya. Hati-hati di jalan".
Aku sadar aku beruntung dan akan semangat kuliah
Belajar
Karena semuanya butuh belajar
Entah itu dia, kamu atau aku
Entah saat sekarang, dulu, atau nanti
Entah dalam suasana di atas, bawah atau tengah
Ketika kita (kamu, aku dan dia) memutuskan berhenti dan berpaling dari belajar, di situ lah duniamu akan berhenti dan tak berputar
Kita (kamu, aku dan dia) akan menjadi teman si katak di dalam tempurung
Seolah tahu isi bulat dalam lingkaran dan sisi mana yang lebih lancip
aku dan maluku
![]() |
| aku dan maluku |
ini adalah kotoran yang dulu ku cacimaki dengan keras
sekarang aku terjatuh terjerembab ke dalamnya
menyedihkan memang
aku tak bisa keluar setelah ini semua
hanya perasaan makin menyelam lebih dalam yang kutemukan
ah
sesal ini tak berujung
seharusnya aku kembali setelah langskah pertam dan berbalik menutup intu
sial memang
aku terlalu takut memutar arah dan perpaling dari hal keji
apakah aku harus pindah planet?
berani menulis bukti berkarya
Aku rindu
Ini adalah tentang sebuah rindu yang tak bisa ku kabarkan pada siapapun.
Pada mama
Pada uni
Maupun teman karibku
Rindu ini amat pilu, menusuk tajam ke hulu hati siang dan malam
Sangat ingin bertemu, memeluk dan menyanjung cinta untuk bersama
Aku rindu
Rindu pada papa
Tak bisa ku kisah kan pada mama, ini karena entah rindu siapa yang lebih banyak...
Pada teman karib, karena ia bernasib sama, aku tak ingin menambah luka nya
Aku rindu
Rindu pada papa
Padang panjang
Aku menjejaki kota kabut itu lagi
Bertemu semilir angin dingin
Dan kabut yang semakin tinggi
Aku ingin lebih lama berada di sini
Bermain bersama lelah mengelilingi tiga gunung penjaga Padang panjang
Senja ku
Aku ingin mengadu pada senja
Tentang kisah dia yang membenci diriku
Aku ingin bercerita pada senja
Terkait segumpal darah yang membisu
Senjaku diujung waktu
Lihatlah mereka yang menertawakan langkahku
Senja
Hantarkan aku ke pulau kapuk yang jauh
Sesal
Ini adalah pelajaran
Karenanya aku tidak akan mengulang atau mencoba hal ini lagi
Malu
Iya, aku sangat malu
Pada diriku, dia dan Allah
Aku ingin mencari mesin waktu
Kembali ke masa awal aku akan memulainya
Ingin terhindar dan berbalik
Sehingga sesal yang panjang tidak terjadi
Nasihat untuk kalian yang belum mencoba
Tidak semua hal harus disesapi
tidak semua perkara harus diselesaikan dengan cara pintas
Pikirkan dulu kalian kaum muda
Agar hilang sesal dan sesak di dalam jiwa
Karena ini adalah perkara tentang bersama
Bukan hanya kamu dan dia saja
Tapi juga kami dan mereka
Jangan sampai hati ternodai
Karena cara singkat dan licik yang dilalui
Bukittinggi
16 Mei 2018
Penyampaian informasi
Seharusnya kalian tahu, saya bukan penyelenggara acara. Pengunduran, pembatalan, dan pelaksanaan acara saya tidak tahu jelasnya. Saya hanya penyampai kabar sepotong agar bisa engkau teruskan dan lengkapkan. Tolong, jangan terlalu banyak menuntut apalagi mencaci seolah saya adalah panitia acara. Tanya saja mereka, kenapa ada kelalaian. Karena aku hanya penyampai sepotong informasi
Kemenangan
Aku akan berpegang pada kata 'Mari menuju Kemenangan' yang dilandaskan lima kali sehari. Aku akan percaya itu dengan segenap hati. Hingga perubahan akan terlihat dan dapat dirasakan.
Welcome back
Aku sudah lama berhenti membuat kata-kata galau. Berhenti menjadi penyair yang merangkai satu dua kata yang tercecer. Ah, tapi ini tidak lama. Hari ini mulai lagi dan berawal. Welcome back saja. Dan nikmati apa yang akan terjadi
Lagi
Sampai sekarang air mata itu masih keluar
Entah karena sakit lama atau pengetahuan baru
Ia masih mengalir
Menjemput duka yang kian mendalam dan perih
Hai sedih, pulanglah
Ambisi
Aku menemukan ambisiku dulu pada dirimu yang sekarang. Ia berapi-api bergejolak siap melahap ilalang kering kerontang di Padang rumput. Bukan cuma satu, beribu bahkan berjuta gagasan muncul dan siap melompat keluar bagai harimau melihat anak kancil. Ah, itu ambisiku dulu. Kini ia telah hilang tersesat dalam hutan ketakutan.
Aku ingin bertanya. Apakah ambisiku sekarang akan seperti ambisiku sekarang?
Siapakah yang bisa menjawab tentang ambisi ini?
Memerlukan matamu
Aku memerlukan matamu
Bukan sekedar meminta kata cantik untuk bajuku
Atau sekedar menilai manis topi baruku
Aku memerlukan matamu
Yang dapat menjelaskan padaku perkara salah yang aku kerjakan
Rinci dari atas hingga bawah
Aku memerlukan matamu
Yang akan membenarkan salah
Namun hati tidak luka mendengar nasihat kasar
Kemaren, nanti, dan besok
Aku memerlukan matamu
Terima kasih
Aku hanya bisa berkisah padamu layar kosong
Mengeluhkan hal yang telah berlalu
Mencari makna tersembunyi dalam kelabu
Menanti arti panjang dalam kisah ku yang singkat
Aku hanya bisa bercerita padamu layar kosong
Mencurahkan rasa sakit yang makin mendalam
Mengikis dendam yang tebal
Menangkis setiap tetesan luka yang makin melebar
Layar kosong
Terima kasih dengan kerja kerasmu mendengarkan
Terlebih setelah dua tiga perkara yang menusuk jantung
![]() |
| f/Istimewa kesidahan ku adalah kesedihan yang tak beralasan |
Nyanyian
Aku semakin terombang ambing dalam kesakitan. Hal ini nyata adanya. Semakin menusuk dan dalam.
Bagaimana caranya agar diriku dipeluk oleh semesta. Aku butuh nyanyian rindu ini. Rindu yang dalam
Tiap detik
Aku sudah berkata 'tidak' pada diriku sendiri dan kalian. Tapi, sakit itu masih ada ketika tahu keaslian yang terpapar. Aku akan menarik kesimpulan baru. Selama ini, aku hanya bermain di dalam pikiran sendiri untuk menenangkan diri namun gagal. Benar rasa sesak itu masih ada. Apakah aku harus pergi atau dia. Aku ingin pindah ke lain hati. Hati yang benar-benar kosong untuk diriku. Kenapa dulu ia hinggap? Hai capung, janganlah kau sembarang hinggap. Rasa ini sakit terlebih karena kenangan yang sempat terbuat. Aku ingin menghapus seluruh luka, namun diriku belum kuat menghapus semua kenangan yang membuatku hampir mati ini. Aku berharap ada ruang pemisah antara luka dan suka. Rasa suka ini merajut luka setiap detiknya. Tusukan jarum luka ini sangat sakit.
Debu
Suatu hal yang mahal tidak bisa dibeli dengan uang. Kepercayaan. Semakin lama aku merasa hal itu hilang dari diriku. Entah bagaimana caranya agar ia datang dan menghujani ku lagi. Aku rindu aku yang dulu. Yang diberi banyak kepercayaan dan semangat. Aku sekarang hanya sebutir debu yang menumpang terbang pada angin
Puisi mu
Kini aku tahu kepastian dari puisi mu selama ini. Sedih memang, tapi itu pilihanmu untuk menentukan kepada siapa puisi itu berlabuh. Sakit tidak, karena sejatinya aku tahu itu bukan aku. Selamat saja untuk wanita penerima puisi mu. Ia berhasil melumpuhkan hati dan pikiran mu.
Malam kemaren
Biarlah ini jadi satu dari perjalanan panjang seperti hari-hari kemaren. Yang tidak ada menghadirkan rasa apa lagi cinta.
Biarlah ini jadi satu dari perjalanan panjang seperti hari-hari sebelumnya. Yang kosong tanpa bicara antara kita.
Biarlah ini jadi satu dari perjalanan panjang seperti hari-hari kemaren. Menjadi cerita mati ditemani angin penjemput subuh
Kamu
Aku akan tetap menunggu dengan memperbaiki diri. Menjaga hati ini susah, terlebih ketika godaan berdiri di depan mata.
Aku hanya akan diam dan memperbaiki diri. Entah itu untuk kamu, kamu, atau kamu yang lainnya.
Terima kasih telah mengingatkan
Teman
Dia adalah laki-laki bernama teman. Katanya lumayan bijak jika ditanya. Satu hal yang sangat ku kagumi padanya, ia tidak akan berkata tidak jika itu melukai.
Hujan 2
berani menulis bukti berkarya
Kesendirian
20:54
Aku
Ini berawal dari seorang teman menanyakan apa sebenarnya yang aku inginkan. Ia berpendapat, aku adalah pribadi yang tertutup, jarang bergaul dengan sesama. Berkali-kali ia menanyakan tipe teman seperti apa yang aku ingin dekati. Pasnya, tipe apa yg bisa menjadi teman baikku.
Sebenarnya, aku tahu maksut perkataannya. Aku adalah orang yang tidak bisa berbagi kepada siapapun. Bahkan, terkadang sikapku menunjukkan antisosial, tidak mau bergaul dengan teman dan pilih-pilih dalam berteman.
Aku bukan tipe yang sulit diajak berbicara. Sekali sudah terbuka, ribuan kata akan meluncur tanpa henti, hingga pendengar jenuh dan kesal. Masalah yang aku punya, tak semua orang ku izinkan menjadi pendengar ku. Aku akan memilih yang aku sukai saja.
Aku tahu ini pribadi introvert. Aku tidak ingin mengubahnya, agar kalian tahu, susahnya mendapatkan aku ketika itu telah kau lepas
Singa Kecil
| f/Istimewa |
Berhenti
![]() |
| Ketika sepi datang carilah keramaian untuk menghilangkannya |
berani menulis bukti berkarya
Mereka
Ini kembali ke kisah aku, kamu dan mereka. Tapi, kisah kali ini kamu bukan spesial seperti dukun kamu sama dengan mereka. Yang akan melengkapi satu tambah satu yang kita punya. Sekarang itu saja. Selamat malam
Kucing Keramat
| f/ Istimewa |
berani menulis bukti berkarya
Sore ini di sini
Ini tentang menunggu tanggung jawab. Bukan perihal saya, dia, kamu, dan mereka. Tapi siapa yang ingin bergelut dengan kebenaran? Setelah lempar-melempar menjadi hal yang lumrah untuk sekedar dimaafkan. itu kata mereka, saya setuju dan tidak. Menghitung jerih dan keringat yang keluar. Membandingkan satu dengan yang lainnya. Saya di atas dan kamu di bawah tergeletak lesu, katanya. Dia tidak melihat peluh yang keluar dari ujung saku terkoyak.
Selesai
Sahabat sebelah mengatakan, aku bukan takut jatuh cinta, Tapi takut patah hati, karena itu aku menutup hati.
Belakangan ini aku telah membuka sedikit celah. Ku izin kan rasa itu masuk secara perlahan. Aku yakin, pada saat itu, aku akan merasakan hal terbaik dari dia yang kini hilang. Aku mempercayai dia akan menghilangkan rasa takut pada diriku. Salah, dia hanya mengingatkan ku akan ketakutan itu harus ada. Tidak ada hiburan dan tawar-menawar. Kini aku akan menutup hati, tanpa terkecuali pada siapapun. Tidak, dia, dia, dan kamu.
Hari ini
Dulu, kita juga sering kayak gitu. Saling komen status, sekedar sapa kabar, saling menyemangati, berbagi kisah hari ini. Aku sempat terbang dan tak ingin kembali ke bumi. Namun, sekarang kita sudah jauh. Bahkan untuk sekedar tanya kabar tidak pernah lagi. Tapi kini aku tahu, kau berlaku seperti itu tidak hanya padaku seorang. Aku mendapat kabar yang sama dari dia. Aku hanya terlalu berharap kepada seseorang yang belum tentu siapa dia untuk ku. Hal yang dulu kita lakukan kini berganti menjadi hal yang sekarang kau lakukan dengan dia. Untuk waktu yg lebih panjang, ku rasa akan ada dia kedua, ketiga dan seterusnya. Sekarang aku tahu dan berhenti. Selamat tinggal
Prasangka
Aku tidak akan berprasangka lagi. Entah itu baik atau buruk. Mungkin memang harus bertahan agar rindu itu tahu posisi dan hilang selamanya. Ini bukan perihal satu dua hari, masih panjang jalan yang harus ditempuh. Takkan bisa dilalui jika sendiri. Aku butuh dia, kamu, dan mereka. Prasangka buruk itu harus hilang. Tapi, untuk kalian itu terserah. Aku hanya bisa tersenyum
catatan ketika aku GALAU
Hilang
Kepingan itu hilang lagi. rasanya makin berkurang dari hari ke hari. Entah kepada siapa pesan akan dikirimkan. Surat sudah menumpuk sejak ribuan tahun yang lalu. kemaren berkata tidak, karena saya tidak bisa berkata iya. ah, malasnya, sebal terhadap diri sendiri. Permainan ini persoalan hati. Entahlah, banyak yang buram. Semakin hari semakin sakit dan hilang rasa percaya diri. Ini akan beujuuke nistaan atau pada hal bahagia? Semalam semakin parah, luka kecil tergores ulang.
Sembunyi
Pertengkaran terjadi di dalam diri sendiri. Selayaknya ia tahu, bang dirinya tak dapat memiliki secara utuh. Sampai kapan pun. Sekali pun ia telah resmi menjadi pendamping hingga akhir. Pada dasarnya, ia akan menjadi milik ibunya. Bukan dirimu. Berlainan hal dengan dirimu yg akan menjadi miliknya. Seratus persen tanpa kurang satu bagian pun. Tiliklah, sekarang dimana posisi dia dan dirimu. Siapa dia bagimu dan siapa dirimu baginya. Dia punya umum, untuk sekarang itu saja. Jangan pernah berharap atau memikirkan akan merantai ya dengan belenggu keegoisan. Dirimu hanya pecinta yang tersembunyi
Rindu dan sepi
Kesepian dan kerinduan adalah dua sisi mata uang yang sama. Begitu kata Jostein Gaarder dalam putri Sirkus-nya. Aku percaya dan setuju. Ketika rindu itu datang, kesepian akan menyapa dengan lembut. Namun, mereka berjanji untuk berkunjung. Lihatlah rindu, ia berani menunjukkan diri secara terang-terangan, mengutip kata dalam kehidupan sehari-hari nya. Berbeda dengan kesepian. Datang dengan diam, duduk di sudut ruangan dengan tangan dan kaki terdekap. Kasihan sepi ini. Bukan ia tak ingin menampakkan diri, tapi hadirnya selalu dibenci
Merah
Aku tidak membutuhkan warna biru
Cukup hitam, merah, dan putih ini
Aku akan bersyukur dengan sepenuh hati
Menanti bersama ujung akhir
Kelas awal
Kelas mata kuliah umum Bahasa Indonesia.
Lucu, banyak kesalahan umum yang dimaafkan oleh masyarakat sendiri. Berbicara dengan bahasa sendiri memunculkan banyak cerita lucu. Padahal sudah lebih 13 tahun bahasa ini diperdengarkan ke telinga. Aneh, masih saja salah. Namun lebih mirisnya, kesalahan tersebut dimaafkan tanpa tanda bagai dimaklumi saja. Kasihan guru bahasa Indonesia, katanya. Berjuang untuk hal yang ditiadakan bersama.
Awal lagi
Ini tentang kisah lama yang akan berulang. Aku lupa bagian awal dan akhir yang memiliki klimaks mustahil. Pemeran utama susulan disiapkan dengan dandanan yang menawan. Akankah cerita akan berujung tragis??
Duka
Andai dapat ku kabarkan duka yang ada dalam relung hati ini. Aku hanya berandai agar ada yang mengerti. Urungkan lah. Akan ku urungkan karena ku tahu duka yang tersimpan bukan untuk dikabarkan pada angin malam
![]() |
| Yusuf Arifin, Redaktur Kolaborasi Kumparan. f/Istimewa |
Kesalahan
![]() |
| Anggap saja ini tempat yang disebut taman syurga di UIN Imam Bonjol Padang, Sumtra Barat. |
| Gebyar SKK Ganto UNP |
Ini cerita hampir setahun yang lalu. Mei menjadi saksi nyata tentang komintmen yang baru diukir di awal perjalanan. Berawal dari coba-coba semata, untuk mencari jati diri yang terpendam katanya. Tak pernah ukiran ini dikhususkan untuk memasuki pameran internasional. Hanya rasa penasaran yang membantu kaki melangkah dan menapaki jejak satu demi satu. Ingin mencari teman baru, kenalan baru, link atau apapun namanya untuk menyambung hidup di negeri orang yang nun jauh di rantau. Bahkan, dulu terbesit ini hanya menjadi tempat pelarian saja. sekedar tempat untuk alasan ketidakhadiran di kelompok yang menyebalkan. Namun sekarang beda, walaupun aku belum seutuhnya menemukan keaslian yang diincar di sini, aku akan tetap bertahan dan berkembang. Kata seorang teman, bertahan itu hal yang mungkin bisa dilakukan oleh orang umum, namun untuk berkembang, butuh kebijakan dan skill serta keyakinan. Entah ini stasiun yang lama untuk berhenti atau tidak, aku akan bertahan dan mencari apa yang hilang.
Mengulang Cerita lama
| Apakah senyumku terlihat dalam kegelapan cahaya? aku ingin kalian tahu, aku TERSENYUM. |
aku hanya ingin menjelaskan kembali apa yang engakau salah dalam mengerti. Ini bukan tetang perasaan yang lama terpendam dan tidak kesampaian. Jangan salah, ini bukan hari untuk itu. aku hanya akan menjelaskan sekali lagi apa arti getaran yang telah terjadi. bukan aku menjadi pengagum rahasia dengan catatan itu. kemarin, ketika pertanyaan itu muncul, aku tak bisa berkata akau punya. aku tak ingin ada kesalahan baru yang akan muncul dan memercikan dosa besar di dalam hati. mungkin, bukan denganmu, getaran itu milik yang lainnya. kuharap kau mengerti.
Seulah Kisah Aku
Aku dulu peenah
Aku pernah berharap menjadi dia dalam setiap tulisanmu. Menjadi rindu tempatmu pulang ketika lelah. Aku pernah sangat ingin hadir di balik jiwamu yang hangat. Di tempat kau meletakan satu kata yang bernama hati. Aku ingin, kotak itu hanya untuk aku seorang. Menjadi ratu dan raja dalam dirimu.
Setelah ku ingat lagi, itu hanya inginku dulu. Aku memang pernah ingin, tapi bukan keinginan sekarang yang harus terwujud
Suara yang Tak bersuara
| Jangan biarkan kenangan itu terhapus dengan air pantai yang tidak bersalah. tungggu saja akan kehening yang datang. |
berani menulis bukti berkarya aku tak menginginkan hal yang muluk menurutku sebenranya aku ingin menjadi pusat seperti dia mempunyai beribu ...
-
Berhenti lelah. Sekarang bukan saatnya bermanja-manja. Ini sulit. Ya sangat Suli. Belum lebih dari 7 hari dalam seminggu, aku sudah menyerah...
-
Hujan sore ini membawa pulang kenangan kemaren Segores luka kembali terbuka Menganga lebar Hai hujan sore ini Kenapa engkau baw...
-
Entah namanya serakah atau serapah Belum genap 6 bulan Bahkan kartu merah belum ditangan Resah Lelah Ah, sudah lah Pandemi lari ia berhambur...


%2B8.jpg)


