Aku letih

Berhenti lelah. Sekarang bukan saatnya bermanja-manja. Ini sulit. Ya sangat Suli. Belum lebih dari 7 hari dalam seminggu, aku sudah menyerah. Bukan menyerah, tepatnya sedikit merasa letih. Bolehkah? Seharusnya tidak. Ini bukan pasar tempat tawar-menawar. Bukan karena merak kejam. Namun, harus ada harga pembayar kata komitmen. Berjuang dan terus belajar hingga titik yang dituju nampak dengan jelas. Bukan remang-remang, tapi jelas. Jelas hitam dengan putih yang ada

Kawan

Kita berbagi 3 semester ini
Menempuh jalan yang panjang sempit dan berliku
Kadang marah sedih senang kesal
Pada diri sendiri orang lain dan mereka
Berjuta aspirasi bercuat ketika bertemu
Sisa 4 semester lagi
Kita harus bisa

Oke gengs?

Jendela

Dari jendela lantai 3
Tidak ada yang nyata
Jangan menangis hanya karena getaran kecil
Mendengkur lah jika marah

Kesal

Tingkah seseorang tidak pernah bisa ditebak. Ia baik, jika dilihat dari satu sisi. Tapi, tidak menutup kemungkinan ia akan berubah menjadi makhluk yang paling jijik dimatamu. Mungkin ini hanya halusinasi bagi pengagum yang kesepian. Ia hebat dengan segudang prestasi dan kesuksesan yang gemilang. Tak ada yang dapat menyangka, ia jadikan itu alasan untuk menekan ketidakmampuan seseorang. Kecewa. Mungkin kata kecewa pas diletakan di sini sekarang. Atau rasa kagum yang keterlaluan dan tidak berbalas. Tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Semua khayalan berawal sendiri. Mungkin lagi, salah diri yang terlalu memujinya dan ketika ia salah diri tak mampu menerima. Tidak usah kaji siapa yang salah lagi. Cukup sampai di sini. Berhenti menanam bibit baru tanda kagum, suka atau apapun namanya itu. Ini harus jadi kali terakhirku.

Puisi

Aku tak berniat membuat puisi galau
Ketika porak poranda menghantam negeri
Mereka mengais sampah mencari rezeki
Atau mengasah minta nasi

Aku tak berniat membuat puisi cinta
Saat cinta itu tak pernah ada
Walaupun hanya sebatas luka
Tapi ia tak pernah ada

Aku tak berniat berlama-lama
Biar berhenti sampai di sini
Ucapkan saja selamat tinggal
Lalu pergi

Dia

Ya, kepalaku memang sakit
Mungkin karena rintik hujan yang datang tadi malam
Tak perlu dijelaskan rasa ngilu ini
Rinai malam tadi tahu bagaimana perihnya
Ini ngilu yang mana?
Malam ini ada dua ngilu
Anggap saja dua ngilu yang berbeda
Tak tahu mana yang lebih pedih
Karena rinai malam atau dia

Lagi

Sekali lagi aku salah mengartikan
Mungkin ini sudah berkali-kali
Tapi aku selalu mencari pembenaran yang memberhentikan
Aku tak pernah ada menurutku
Aku belum hadir dalam fikirmu
aku masih bermain di dunia fantasi ku

Malam ini aku tahu
Cahaya bulan yang bicara kepadaku

Penonton

Aku hanya seorang penonton
Memang boleh menghina
Boleh mencaci dan memaki
Bahkan aku boleh mengganti sinetron yang ada

Tapi aku lupa satu hal
Aku tak bisa merubah alur cerita
Mengganti pemeran sampingan menjadi utama
Aku hanya pengamatan yang bebas
Seharusnya aku sadar

Xx

Kembali aku kaji kata mampu
Mengulas sedikit dengan perhatian
Apa penyebab ia hadir dalam ucapan

Ia aku mampu karena mampu
Bolehkan aku mampu saat aku tidak mampu?

Lagi tiga

Aku memulai sekali lagi
Perjalanan panjang dengan hati
Aku salah
Seharusnya aku pergi pulang
Meringkuk di balik kandang

Tak sengaja aku mengulang
Sebenarnya tak pernah aku terbayang kenangan ini
Aku ingin memekik ringkih
Karena aku lemah sendiri

Ah... Seharusnya aku pergi pulang
Lihatlah sekarang, aku bingung di pertengahan malam
Masih berkutat dengan gigi
Mencari arti kata mati

Aku rindu satu dua tangga
Kembali ingin menepaki terjal samudra
Di bawah kata hitam dari hati

Aku rindu putaran roda
Saat malam bergulir di jalannya

Aku rindu
Dan aku hanya rindu

Baca

Saya hanya mencoba membaca... Apa yang saya temukan adalah pengetahuan

Uni

Ia tidak banyak. Hanya dua dari empat. Beranjak dewasa bersama, meski pernah terpisah dua tiga kali. Ia tidak kecil. Berukuran sedang jika dibanding. Pergi bermain berdua, meski kadang pulang sendiri

Air terjun

Terkadang mengikuti aliran sungai itu sakit. Banyak batu yang siap menghadang. Terjatuh dari ketinggian tebing. Banyak mata memandang senang, kita air mengalir jatuh. Semakin tinggi tebing yang terhampar, semakin keras sorakan ramai. Mereka hanya tahu air terjun itu indah. Terjatuh dengan damai mengalir ke bawah. Adakah yang merasakan sakit jatuh sang air?

berani menulis bukti berkarya aku tak menginginkan hal yang muluk menurutku sebenranya aku ingin menjadi pusat seperti dia mempunyai beribu ...