Aku

Ini berawal dari seorang teman menanyakan apa sebenarnya yang aku inginkan. Ia berpendapat, aku adalah pribadi yang tertutup, jarang bergaul dengan sesama. Berkali-kali ia menanyakan tipe teman seperti apa yang aku ingin dekati. Pasnya, tipe apa yg bisa menjadi teman baikku.
Sebenarnya, aku tahu maksut perkataannya. Aku adalah orang yang tidak bisa berbagi kepada siapapun. Bahkan, terkadang sikapku menunjukkan antisosial, tidak mau bergaul dengan teman dan pilih-pilih dalam berteman.
Aku bukan tipe yang sulit diajak berbicara. Sekali sudah terbuka, ribuan kata akan meluncur tanpa henti, hingga pendengar jenuh dan kesal. Masalah yang aku punya, tak semua orang ku izinkan menjadi pendengar ku. Aku akan memilih yang aku sukai saja.
Aku tahu ini pribadi introvert. Aku tidak ingin mengubahnya, agar kalian tahu, susahnya mendapatkan aku ketika itu telah kau lepas

Singa Kecil

Image result for kartun singa
f/Istimewa


Tidak peduli tentang orang di sekitar
Atau  bagaimana cara dunia ini berkerja
Menunggu bertanya
Pertanyaan yang akan diajukan orang dewasa
Keingintahuan mengenai dunia
Kesedihan kebahagiaan orang di sekeliling
Beri waktu lagi menunggu dewasa

Berhenti

Ketika sepi datang carilah keramaian untuk menghilangkannya


Aku kan berhenti berharap kepadad siapaupun, kecuali Allah
Aku ingin memutuskan tali lama dan menggantinya dengan tali baru
Bolehkah?
Beritahu akku satu jalan untuk mencapainya
Entah aku disebut korban atau tersangka
Kali ini aku hanya ingin bernafas dengan lega
Aku sudah bosan menghakimi orang lain
Kapan aku bisa ikhlas menghakimi diri sendiri?

Sekali lagi, beri aku jalan!





berani menulis bukti berkarya

Mereka

Ini kembali ke kisah aku, kamu dan mereka. Tapi, kisah kali ini kamu bukan spesial seperti dukun kamu sama dengan mereka. Yang akan melengkapi satu tambah satu yang kita punya. Sekarang itu saja. Selamat malam

Kucing Keramat


Image result for karikatur kucing
f/ Istimewa



Aku tidak mencintainya. Aku tidak menyukainya. Aku juga tidak mengaguminya. Saat itu, aku hanya melihatnya sebagai kucing kecil yang terlantar. Aku memang memberinya rangkulan hangat yang kalian artikan sebagai kekasih. Tapi, bukan itu maksudku. Hanya sebagai penolong yang mencoba membuat ia tetap hidup.

Kalian, yang biasa menyebut diri pribumi, menganggap aku mencuri kucing kecil keramat itu. Padahal, aku hanya menolong kucing kecil yang kakinya terluka di pinggir jalan. Tak lebih dari itu. Kalian mengencam kata penjara kepadaku jika aku tak mengaku. Pencurian itu tidak pernah terjadi. Pada dasarnya, aku tak sengaja menemuinya.

Aku tidak keberatan mengembalikan kucing kecil keramat itu. Namun, aku sangat tidak suka dengan tudingan yang kalian berikan. Tingkah kalian membuat kucing itu takut kepadaku. Bahkan, sekarang kucing yang dulu tinggal bersamaku itu lari ketakutan jika mendengar langkah kakiku baru memasuki ruangan.

Terima kasih pribumi. Ini balasan setelah aku merawat kucing keramat kalian


berani menulis bukti berkarya

Sore ini di sini

Ini tentang menunggu tanggung jawab. Bukan perihal saya, dia, kamu, dan mereka. Tapi siapa yang ingin bergelut dengan kebenaran? Setelah lempar-melempar menjadi hal yang lumrah untuk sekedar dimaafkan. itu kata mereka, saya setuju dan tidak. Menghitung jerih dan keringat yang keluar. Membandingkan satu dengan yang lainnya. Saya di atas dan kamu di bawah tergeletak lesu, katanya. Dia tidak melihat peluh yang keluar dari ujung saku terkoyak.

Selesai

Sahabat sebelah mengatakan, aku bukan takut jatuh cinta, Tapi takut patah hati, karena itu aku menutup hati.

Belakangan ini aku telah membuka sedikit celah. Ku izin kan rasa itu masuk secara perlahan. Aku yakin, pada saat itu, aku akan merasakan hal terbaik dari dia yang kini hilang. Aku mempercayai dia akan menghilangkan rasa takut pada diriku. Salah, dia hanya mengingatkan ku akan ketakutan itu harus ada. Tidak ada hiburan dan tawar-menawar. Kini aku akan menutup hati, tanpa terkecuali pada siapapun. Tidak, dia, dia, dan kamu.

Hari ini

Dulu, kita juga sering kayak gitu. Saling komen status, sekedar sapa kabar, saling menyemangati, berbagi kisah hari ini. Aku sempat terbang dan tak ingin kembali ke bumi. Namun, sekarang kita sudah jauh. Bahkan untuk sekedar tanya kabar tidak pernah lagi. Tapi kini aku tahu, kau berlaku seperti itu tidak hanya padaku seorang. Aku mendapat kabar yang sama dari dia. Aku hanya terlalu berharap kepada seseorang yang belum tentu siapa dia untuk ku. Hal yang dulu kita lakukan kini berganti menjadi hal yang sekarang kau lakukan dengan dia. Untuk waktu yg lebih panjang, ku rasa akan ada dia kedua, ketiga dan seterusnya. Sekarang aku tahu dan berhenti. Selamat tinggal

Prasangka

Aku tidak akan berprasangka lagi. Entah itu baik atau buruk. Mungkin memang harus bertahan agar rindu itu tahu posisi dan hilang selamanya. Ini bukan perihal satu dua hari, masih panjang jalan yang harus ditempuh. Takkan bisa dilalui jika sendiri. Aku butuh dia, kamu, dan mereka. Prasangka buruk itu harus hilang. Tapi, untuk kalian itu terserah. Aku hanya bisa tersenyum

catatan ketika aku GALAU


Sekitaran pukul 11.33 tadi, aku mencoba menghilangkan jenuh tugas yang menumpuk dengan menjejaki rak buku SKK ganto. Membolak-balik satu tua tiga buku untuk mencari judul yang pas untuk menemani jenuh siang ini. Hampir setengah jam, aku berdiam dalam salah satu buku novel remaja menurutku. Bukan karena penulisnya remaja atau bagaiman, bagiku novel yang membahas cinta dalam khayalan adalah novel remaja. Ketika si tokoh utama mengagumi lelaki yang ia rasa tidak pantas atau sebanding dengannya yang kemudian akan meminangnya secara langsung pada waktunya. Mungkin, sebagian kalian tidak setuju dengan konsep ini, tapi bagiku tetap itulah kisah cinta remaja. Bukan berarti aku menunnafikan bahwa hal itu indah dan ada di kehidupan sehari-hari, tidak. Hanya saja bagiku hal itu adalah kisah cinta yang terlalu sempurna dan tidak bisa didapat oleh sembarangan orang dan hanya hidup dalam imajinasi remaja. Aku tidak menuntut kalian untuk setuju ataupun mendeoat pendapatku, hanya saja itiu pandanganku.
Di sini aku ingin menyuarakan suara yang tak bersuara ini. Entah kenapa, membaca buku itu hanya membuatku galau. Dari jenuh pindah ke galau. Bukan karena aku juga memiliki kisah galau seperti itu. Tidak. Hanya saja, galau saja.

Kemudian aku berfikir, apa penyebab galau ini? apakah buku ini? cerita ini? atau hal lain yang tidak dapat ku lukiskan dalam kata untuk kalian yang membaca. Entah lah. Mungkin ini hal yang tidak terlalu penting. Aku hanya ingin menyampaikan “ AKU GALAU”
berani menulis bukti berkarya

berani menulis bukti berkarya aku tak menginginkan hal yang muluk menurutku sebenranya aku ingin menjadi pusat seperti dia mempunyai beribu ...