Pagi hari di Kota Harapan selalu ramai warga berlalu
lalang. Kota ini tak terlalu besar. Penduduk penghuni kota ini hanya sekitar
1.000 jiwa saja. Kota kecil dengan penduduk yang sedikit, menjadikan kota ini
damai dan tentram.
Sama seperti pagi-pagi biasanya, toko-toko di
sekitar Air Mancur Harapan telah bersiap menyambut hari ini. Aroma kuat dari
toko kue Lovely menghiasi pusat kota. Toko kue Lovely selalu ramai di kunjungi
oleh remaja atau pun orang dewasa yang suka menikmati pemandangan air mancur
kota ini. Lantai dua toko ini selalu menjadi tempat favorit bagi siapa saja,
walaupun itu pagi, siang dan malam hari.
Tak hanya toko Kue Lovely, toko Bunga Mekar juga tak
ingin kalah menyebarkan harum semerbak bunga-bunga kembangnya. Toko bunga Mekar
berada di seberang toko kue Lovely, pertemuan aroma keduanya bisa dinikmati
oleh warga kota tepat di sekeliling air mancur Harapan. Mulai pagi, jejeran
kembang telah menghiasi depan toko bunga Mekar.
Masih banyak toko lagi di sekeliling air mancur
Harapan, tapi kisah kali ini tentang dua toko ini saja. Ia masih belum berani
memandang toko bunga Mekar secara terang-terangan. Secara sembunyi-sembunyi,
matanya melirik toko bunga Mekar yang berada di seberang sana. Alex, sudah
setahun lamanya ia berkerja sebagai pembuat roti di toko kue Lovely. Terhitung
sejak awal ia berkerja, setiap mengantarkan kue yang sudah masak ke depan toko
Alex selalu menyempatkan diri memandang toko bunga Mekar. Tidak berani
berlama-lama, Alex selalu mencuri pandang.
Pagi ini, Alex menggantikan tugas Dion, teman
kerjanya menyusun kue di rak-rak depan toko. Dion menghubungi Alex pagi ini
bahwa ia tidak enak badan sehingga tidak masuk kerja. Dion juga meminta Alex
menggantikan sementara perkerjaannya menyusun kue di rak-rak pagi ini. Dengan
senang hati, Alex menyanggupi permintaan Dion.
Aku bisa
melihatnya dengan jelas jika dari depan, batin Alex. Pagi
ini, Alex berangkat kerja dengan hati yang berbunga-bunga. Namun sayang, masih
sama seperti pagi-pagi sebelumnya, Alex hanya mencuri pandang ke toko bunga
Mekar. Seolah-olah fokus pada perkerjaan Alex hanya menyusun roti ke rak-rak
sambil menggerutu. Alex gerogi saat berada tepat di depan toko bunga Mekar. Tak
sengaja Alex menjatuhkan satu roti berbentuk hati dengan warna merah jambu.
“Apakah kamu akan membuang kue itu?,” suara wanita
penjaga toko bunga Mekar menyapa pagi Alex.
“Ah, iya,” jawab Alex dengan gemetar. Alex hanya
menunduk menatap tanah. Ia tidak berani memandang pesona Tuhan di depannya itu.
“Bolehkah aku mengambilnya, akan ku berikan ke
burung-burung di sekitar air mancur ini?,” tanya wanita penjaga toko bunga
Mekar.
“Tentu, ambil saja,” Alex bergegas masuk ke dalam.
Jantungnya serasa meloncat-loncat mengelilingi air mancur harapan. Dari balik
tirai jendela yang terbuka sedikit, Alex mengintip ke luar. Ia memandangi
wanita penjaga toko bunga Mekar melenggang jauh dari pandangannya. Sepersekian
detik, waktu serasa berhenti. Alex terlena dengan kejadian pagi ini.
Ah, andai saja
tadi aku menatap wajah cantiknya. Andai aku berani berbincang lebih jauh
dengannya. Ah, andai saja... sudahlah, bahkan, namanya saja aku tak tahu.
Alex merasa menyesal
dalam hatinya. Selama satu tahun terakhir ini, Alex selalu mencuri pandang pada
wanita penjaga toko bunga Mekar. Selama satu tahun terakhir ini, Alex selalu
berangkat kerja pagi-pagi, agar melihat wanita penjaga toko bunga itu.
Selama satu tahun Alex menunggu kesempatan seperti
pagi ini, tapi ia tak sanggup berkutik di depan wanita penjaga toko bunga
Mekar. Kini, Alex hanya berteman dengan penyesalannya pagi ini. Alex menjalani
hari dengan suram dan gelap. Harapanya hilang dalam gelap penyesalannya.
Keesokan harinya, Alex tak lagi terlihat di toko kue
Lovely. Tak ada pembuat roti Alex lagi di sana. Alex memilih meninggalkan toko
kue Lovely dan kenangan Wanita penjaga toko bunga Mekar. Alex berhenti dan
memilih pergi jauh dari air mancur kota Harapan.
...
Pagi ini, sama seperti pagi biasanya. Penghuni kota
harapan telah bangun dari peraduan. Aktivitas telah menunggu. Jantung kota
telah ramai oleh warga kota Harapan. Wanita penjaga toko bunga Mekar mulai menyusun berbagai
kembang cantik di rak-rak depan toko. Toko yang persis berada di depan air
mancur Harapan ini selalu buka mulai dari pagi hari hingga malam. Berbagai
jenis dan warna kembang tersedia di sini.
Lia, wanita penjaga toko bunga Mekar ini telah
berkerja selama satu tahun. Setahun yang lalu Lia menerima pekerjaan ini dengan
senang hati karena hobinya. Bukan hanya itu, yang membuat Lia bertahan berkerja
di toko bunga Mekar adalah pembuat kue toko Lovely di seberang air mancur.
Hampir setiap pagi, Lia mengamati Pembuat kue toko
Lovely dari depan tokonya di sebalik air mancur harapan. Setiap pembuat kue
toko Lovely mengantarkan kue ke depan Lia selalu menyempatkan diri berdiri di
depan tokonya. Semakin hari berlalu, alarm Lia selalu berdering jika pembuat
kue toko Lovely keluar ke depan tokonya.
Pagi ini, Lia tak melihat penjaga toko kue Lovely.
Ia hanya melihat si pembuat ku toko Lovely saja. Pagi ini, Lia memberanikan dirinya
untuk menyapa pembuat kue toko Lovely. Pembuat kue itu tanpak sedang menyusun
kue-kue di rak dengan sangat teliti. Ah,
ia terlihat tampan dengan topi masaknya itu, ujar Lia dalam hatinya.
Pagi ini, Lia memutuskan untuk menegur dan mengobrol
dengannya. Sudah cukup lama Lia menahan perasaan kepada pembuat kue toko
Lovely. Ia kagum dari awal berkerja di seberan toko kue Lovely. Pembuat kue
toko Lovely menjatuhkan kue berbrntuk hati berwarna merah jambu.
“Apakah kamu akan membuang kue itu?,” Lia mencoba
memulai percakapan dengannya.
“Ah, iya,” jawab pembuat kue toko Lovely tanpa
memandang Lia.
“Bolehkah aku mengambilnya, akan ku berikan ke
burung-burung di sekitar air mancur ini?,” tanya Lia. Ia berharap percakapan
ini akan terus berlanjut.
“Tentu, ambil saja,” jawab pembuat kue toko Lovely
dan berlalu ke dalam.
Lia mengambil kue berbentuk hati berwarna merah
jambu itu. Di bagikannya kue itu ke burung-burung merpati yang biasa hinggap di
sekliling air mancur.
Ah, apakah
kata-kataku ada yang salah?. Kenapa pembuat kue itu tak memandangku?. Bahkan
namanya saja aku tak tahu.
Kini setiap pagi, Lia selalu berharap kesempatn itu
berulang kembali. Lia telah menyiapkan perkataan yang lebih baik. Bahkan, Lia
telah menghafal kata-kata yang akan diucapkannya kettika bertemu dengan pembuat
kue toko Lovely.
Namun sayang, semenjak pagi itu, Lia tak pernah lagi
melihat pembuat kue toko Lovely berdiri di depan rak-rak tokonya. Siluetnya pun
tak terlihat ketika pembuat kue mengantarkan kue yang sudah dimasak ke depan.
Semenjak pagi itu, Lia selalu menunggu.
Hanya air mancur Harapan yang tahu apa yang
sebenarnya terjadi diantara Alex dan Lia. Air mancur harapan menjadi saksi bisu
cinta dalam diam Alex dan Lia.
11:38,
17 Juli 2017
Padang Utara.