Kanvas Putih


Lihatlah kanvas lusuh di tepi kamar itu. Kanvas itu tak lagi putih. Hari demi hari, warnanya makin gelap dan kelam. Satu titik putih pun tak lagi terlihat. Kanvas itu menjadi bukti perjalanan hidupnya.
Dulu, berbagai warna terlukis di atas kanvas putih polos yang baru. Warna kuning melambangkan keceriannya pada hari-hari itu. Ada biru tanda kedamaian dalam jiwa tenangnya. Merah pun hadir sebagai emosi yang kadang ia luapkan. Warna pelangi selalu ada menghiasi hari-hari bahagianya dulu.
Kanvas putih itu hanya kenangan belaka. Kini, bahkan  setitik warna pun tak bisa lagi dilihat pada kanvas lusuh itu. Hitam, hanya kanvas hitam ang tersisa. Kejam kehidupan membuat warna tersendiri di atas kanvasnya.
Berawal dari satu titik kejahatan. Warna itu terus menyebar dan menutupi seluruh warna yang telah diukirnya dulu. Kini, ia hanya bisa melihat kanvas warna-warni dalam imajinasi saja. Kehidupannya telah tertutupi dengan kejahatan dan kebohongan.
Ia rindu, namun, tak dapat berkata apapun untuk mengembalikan kanvas putih polos barunya.

berani menulis bukti berkarya aku tak menginginkan hal yang muluk menurutku sebenranya aku ingin menjadi pusat seperti dia mempunyai beribu ...