Lapangan HIjau dan Pohon pinus

 


Gadis dengan gaun putih panjang itu merebahkan dirinya di atas lapang hijau ini. Lapangan ini masih sama, dengan rumput hijau menari riang dihembus angin dan pohon pinus di tengah lapangan. Kecuali kesendirian yang merubah suasana lapangan dengan rumput hijau ini.
Pohon pinus mengingatkannya pada hari itu. Ketika pertama kalinya ia mengenal lapangan dengan rumput hijau ini. Hari bermain bersama nyanyian burung dan belaian angin manja. Hari yang kini hanya bisa tinggal dalam ingatan saja.
Gadis itu memejamkan kedua mata sipitnya, membawa kembali kenangan. Kenangan selalu tahu jalan pulang walaupun tanpa petunjuk arah. Dalam hitungan detik, sebuah wajah menari di gelap pejaman mata. Wajah berseri yang sangat ia rindu di saat ini.
Pemilik wajah itu telah mengajarinya menanam pohon. Ini adalah pohon ajaib yang akan mendatangkan kebahagian di setiap helaian daunnya ujar laki-laki paruh baya yang gadis itu panggil dengan sebutan ayah.
Setiap akar akan mencari sumber kebahagian dan membagikannya kepada ranting. Ranting yang selalu berbagi dengan daun yang akan menebarkan kabahagiannya kepada siapapun yang berteduh di bawah rindangnya.
“Ayah, bagaimana wujud kebahagian itu? Bisakah aku menangkap dan menyimpannya dalam sebuah toples?,” pertanyaan lugu gadis kecil dengan hasrat yang membara membawa gelak tawa.
“Dara kecilku, kebahagian bukan hal yang bisa kita genggam dengan paksa. Apa lagi memasukanya ke dalam toples. Itu bukanlah tempat yang cocok untuk kebahagiaan,” dengan lembut ayah gadis itu mencoba menjelaskan.
“Kebahagian hanya dapat disimpan di dalam hati yang jernih. Hati tanpa dendam dan amarah. Di sanalah tempat kebahagian yanng hakiki dara kecilku,” nasihat yang selalu diingat dara kecil hingga ia berubah menjadi seorang gadis dengan sejuta pengetahuan tentang dunia.
Kenangan dan nasihat indah itu, kini ia simpan di dalam hatinya. Menjadi obat penawar ketika rindu datang menyerbu.

Lapangan itu akan tetap dengan rumput hijau dan pohon pinus.

berani menulis bukti berkarya aku tak menginginkan hal yang muluk menurutku sebenranya aku ingin menjadi pusat seperti dia mempunyai beribu ...