Ketika awan bebas terbang
mengitari langit, ada hati yang menjerit tersiksa akan lamunan. Hati itu
berteriak benci kepada awan putih yang bermain dengan gelak tawa. Tak pernahkah
awan itu memikirkan hati yanng terluka melihat ceria harinya. Ketika hati semakin
terpuruk dalam goncangan masalah dan ilusi, tak pernah awan berfikir untuk
berhenti bergelut dengan angin.
Hati itu hakikatnya tak membenci
awan. Ia hanya ingin awan mengerti keadaannya. Ia ingin awan berubah dan
mengikuti persaan hatinya. Ketika ia sedih, awan akan berubah menjadi hitam
gelap. Menggambarkan kesedihan yang ia hadapi.
Ketika hati itu jatuh cinta, ia
ingin awan berubah bentuk dan berwarna merah jambu untuknya. Ketika ia bingung,
awan akan memberikan jawaban kepadanya. Hakikatnya hati tak membenci awan.
Awan di langit tidak pernah tahu
apa yang terjadi pada hati. Bahkan sang awan pun tak pernah mengenal hati. Ia
tak pernah mendengar, melihat dan merasakan keberadaan hati. Awan hanya sibuk
dengan kehidupanya bersama angin dan matahari. Tak pernah ada hati dalam
harinya.
Dari kejauhan, hanya hati yang
terus memperhatikan awan dengan segal kebencian. Kebenian yang makin hari makin
bertambah di dalam hati.
