Awan






Ketika awan bebas terbang mengitari langit, ada hati yang menjerit tersiksa akan lamunan. Hati itu berteriak benci kepada awan putih yang bermain dengan gelak tawa. Tak pernahkah awan itu memikirkan hati yanng terluka melihat ceria harinya. Ketika hati semakin terpuruk dalam goncangan masalah dan ilusi, tak pernah awan berfikir untuk berhenti bergelut dengan angin.
Hati itu hakikatnya tak membenci awan. Ia hanya ingin awan mengerti keadaannya. Ia ingin awan berubah dan mengikuti persaan hatinya. Ketika ia sedih, awan akan berubah menjadi hitam gelap. Menggambarkan kesedihan yang ia hadapi.
Ketika hati itu jatuh cinta, ia ingin awan berubah bentuk dan berwarna merah jambu untuknya. Ketika ia bingung, awan akan memberikan jawaban kepadanya. Hakikatnya hati tak membenci awan.
Awan di langit tidak pernah tahu apa yang terjadi pada hati. Bahkan sang awan pun tak pernah mengenal hati. Ia tak pernah mendengar, melihat dan merasakan keberadaan hati. Awan hanya sibuk dengan kehidupanya bersama angin dan matahari. Tak pernah ada hati dalam harinya.
Dari kejauhan, hanya hati yang terus memperhatikan awan dengan segal kebencian. Kebenian yang makin hari makin bertambah di dalam hati.

berani menulis bukti berkarya aku tak menginginkan hal yang muluk menurutku sebenranya aku ingin menjadi pusat seperti dia mempunyai beribu ...