Kecanduan Smartphone



f/ Istimewa

Dewasa ini, masyarakat dimanjakan oleh smartphone yang bermacam-macam kegunaannya. Hampir semua kegiatan dapat dilakukan dengan smartphone. Daya tarik yang ditawarkan oleh smartphone memang sangat memikat penggunanya. Smartphone dapat membuat penggunanya mampu duduk berjam-jam tanpa mempedulikan sekitarnya. Smartphone pun dapat menjadi alat yang bermanfaat atau justru merugikan, tergantung kepada tiap-tiap orang bagaimana cara mereka memanfaatkannya.

Dikutip dari IndonesiaStudent.com, David Wood, sebagai seorang Wakil Presiden dari Eksekutif PT Symbian mengungkapkan bahwa smartphone adalah suatu jenis ponsel atau Hp cerdas yang dapat dibedakan dengan jenis alat telekomunikasi biasanya, yakni bagaimana proses pembuatannya dan proses penggunaannya. Dapatlah dikatakan bahwa smartphone merupakan komputer dengan ukuran kecil yang juga memiliki kemampuan sebuah telepon.

Smartphone saat ini sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan lagi dari kehidupan masyarakat. Mulai dari bangun tidur hingga kembali tidur smartphone selalu di dalam gengggaman. Bahkan, banyak orang mengaku lebih baik tak membawa dompet dari pada tak membawa smartphone lantaran sudah ketagihan dengan smartphone.

Saat berada di sekolah, kantor, kampus, pasar, kendaraan umum ataupun di mana saja kita pasti akan melihat orang memegang samrtphone. Kapan saja kita selalu tidak mau ketinggalan memainkan smartphone kita.

Dalam dunia anak-anak, sangat banyak kegunaan smartphone dalam membantu keseharian mereka. Belajar, berkomunikasi, dan bermain bisa dilakukan di smartphone. Ada banyak anak yang paham dan mampu memanfaatkan dengan baik smartphone guna membantu mempermudah pekerjaannya. Contohnya, aplikasi Al-quran tersedia dengan mudah untuk digunakan di mana pun anak berada.

Melalui smartphone pun anak-anak bisa mencari tugas yang sulit. Beberapa anak bahkan belajar secaara otodidak melalui smartphone. Malahan ada pula yang dapat memanfaatkannya untuk bisa mendapatkan penghasilan tambahan.

Di sisi lainnya ternyata tidak sedikit anak yang justru salah dalam memanfaatkannya, mereka akhirnya menjadi pecandu smartphone. Sangat disayangkan, di balik kecanggihan smartphone dalam  membantu aktifitas anak-anak sekarang ini, tersimpan dampak yang sangat berbahaya bagi kesehatan fisik maupun psikis anak.

Dampak fisik tersebut antara lain, Computer Vision Syndrome (CVS) atau penglihatan menjadi terganggu yang di akibatkan karena sering melihat layar smartphone, sakit kepala yang diakibatkan karena posisi leher yang salah dan tegang pada mata, Pandangan kabur (Blurry Vision) yang dikarenakan tegangnya otot mata yang tidak mampu fokus lagi pada jarak yang berbeda dan bisa mengakibatkan terjadinya rabun jauh, Timbulnya gangguan pendengaran akibat terlalu lama meggunakan speaker, dan kelainan postur tubuh arthritis serta penyakit degeneratif lainnya yang banyak di temui pada usia 40-50 tahun.

Sedangkan para pecandu smartphone juga akan merasakan dampak psikis, seperti, tidak ingin lepas dari smartphone, terganggu waktu tidur, mengurangi produktifitas, merusak otak, sulit tidur dan merusak hubngan sosial.

Dilansir dari Liputan6.com (17/4/2017), di Amerika Serikat (AS), seorang bocah berusia 13 tahun terpaksa masuk panti rehabilitasi karena sangat ketergantungan dengan smartphone-nya. Kedua orangtuanya pun memboyong sang anak ke panti rehabilitasi Restart Life Centre di wilayah Seattle, AS. Panti rehabilitasi ini memiliki program pemulihan intensif bagi anak-anak dan remaja yang tak bisa lepas dari perangkat elektronik. Tak tanggung-tanggung, program pemulihan anak-anak tersebut bisa berlangsung lebih dari delapan tahun.
Smartphone membuat anak-anak menjadi manja dan malas karena sudah kecanduan. Bunyi pemberitahuan dari berbagai aplikasi misalkan facebook, twiter, instagram, line, dan lain sebainya menggangu kenyamanan tidur mereka. Dampak psikis menyebabkan Produktifitas kesehariannya pun berkurang dari biasanya. Masih banyak lagi hal-hal yang sangat membahayakan kesehatan anak-anak akibat kecanduan smartphone.
Waktu belajar anak-anak pun akan terganggu karena kecanduan Smartphone. Anak-anak akan sibuk sendiri. Smartphone membatas sosialisasi anak-anak dengan dunia luar. Mereka tidak lagi tertarik bermain bersama teman-temannya di lapangan luar. Mereka cendrung bermain sendiri bersama gadget hingga berjam-jam.
Tidak hanya itu, prediksi yang dilakukan Liputan6.com, Benua Asia memiliki jumlah pecandu smartphone terbanyak dan akan terus meningkat. Survei terkini yang dilakukan Science Direct mengungkapkan bahwa 25 persen dari pengguna smartphone yang mayoritas remaja di Asia mengidap nomophobia.
Lebih lanjut, survei tersebut menjelaskan 72 persen di antara anak-anak berusia 11-12 tahun  di Korea Selatan menghabiskan waktunya 5,4 jam sehari untuk menggunakan smartphone. Jumlah ini belum digabungkan dengan total penggunaan smartphone oleh remaja di berbagai negara lain di Asia, termasuk Singapura, yang rupanya memiliki tingkat penggunaan smartphone tertinggi di dunia. Padahal, populasinya hanya sebanyak 6 juta jiwa saja.
Melihat survei tersebut membuktikan bahwa masyarakat sekarang terutama dalam usia anak-anak sangat tergantung dengan smartphone. Padahal mereka belum terlalu memerlukan smartphone. Mereka sanggup menghabiskan waktu berjam-jam hanya dengan memandang smartphone saja. Tak jarang, tugas sekolah terabaikan karena smartphone. Aplikasi yang biasa dibuka pun biasana berupa game dan media sosial saja. Jarang, mereka menggunakan smartphone untuk mencari tugas ataupun informasi pengetahuan.
Jika keadaan seperti ini kita biarkan saja, maka anak-anak Indonesia sebagai generasi kedepannya akan menjadi generasi smartphone. Generasi smartphone yang sibuk dengan dirinya dan smartphone saja. Lingkungan sekitar tidak lagi dipedulikannya. Bahkan, kemunduran dalam pengetahuan juga akan menjadi masalah untuk generasi kedepannya.
Seharusnya, para orang tua harus membatasi waktu bermain anak-anak dengan smartphone. Jika gadget belum terlalu diperlukan dalam bidang pendidikannya, maka sebaiknya orang tua tidak memberikan fasilitas tersebut kepada anak-anak. Ditakutkan mereka belum bisa meletakkan fungsinya dengan benar. Tidak hanya itu, orang tua juga harus memberikan peringatan dan pengetahuan tentanng apa itu gadget dan bahayanya kepada anak-anak.
Orang tua pun juga harus membatasi diri untuk tidak sibuk dengan gadget sendiri di depan anak-anak. Perilaku orang tua akan sangat mudah dicontoh anak-anak. Oleh karena itu, orang tua harus menjaga sikap di depan anak-anak. Memperingati mereka dengan kata-kata yang mudah dimengerti dan halus serta menekankan bahaya kecanduaan dalam berbagai bidang.
Sebaiknya juga, orang tua memberikan anak-anaknya berbagai kegiatan lainnya yang bermanfaat seperti, mengikuti les sesuai bakat sang anak, mengajaknya bermain bersama teman-temannya di taman, lapangan atau di tempat rami lainnya, dan kegiatan positif lainnya.
Peran orang tua sangat diperlukan dalam pendidikan anak. Sebagian besar contoh yang ditiru anak adalah orang tua nya. Pepatah mengatakan, buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya. Oleh karena itu orang tua adalah sumber perbaikan generasi masa datang.
Semoga dengan sadarnya orang tua akan pendidikan anak-anaknya membuat angka kecanduan di Asia menjadi berkurang karena anak Indonesia. Kesadaran orang tua pun akan menyelamatkan generasi masa depan dari kecanduan smartphone. Hindari kecanduan smartphone dari sekarang!

berani menulis bukti berkarya aku tak menginginkan hal yang muluk menurutku sebenranya aku ingin menjadi pusat seperti dia mempunyai beribu ...