Lagi

Sampai sekarang air mata itu masih keluar
Entah karena sakit lama atau pengetahuan baru
Ia masih mengalir
Menjemput duka yang kian mendalam dan perih
Hai sedih, pulanglah

Ambisi

Aku menemukan ambisiku dulu pada dirimu yang sekarang. Ia berapi-api bergejolak siap melahap ilalang kering kerontang di Padang rumput. Bukan cuma satu, beribu bahkan berjuta gagasan muncul dan siap melompat keluar bagai harimau melihat anak kancil. Ah, itu ambisiku dulu. Kini ia telah hilang tersesat dalam hutan ketakutan.

Aku ingin bertanya. Apakah ambisiku sekarang akan seperti ambisiku sekarang?
Siapakah yang bisa menjawab tentang ambisi ini?

Memerlukan matamu

Aku memerlukan matamu
Bukan sekedar meminta kata cantik untuk bajuku
Atau sekedar menilai manis topi baruku

Aku memerlukan matamu
Yang dapat menjelaskan padaku perkara salah yang aku kerjakan
Rinci dari atas hingga bawah

Aku memerlukan matamu
Yang akan membenarkan salah
Namun hati tidak luka mendengar nasihat kasar

Kemaren, nanti, dan besok
Aku memerlukan matamu

Terima kasih

Aku hanya bisa berkisah padamu layar kosong
Mengeluhkan hal yang telah berlalu
Mencari makna tersembunyi dalam kelabu
Menanti arti panjang dalam kisah ku yang singkat

Aku hanya bisa bercerita padamu layar kosong
Mencurahkan rasa sakit yang makin mendalam
Mengikis dendam yang tebal
Menangkis setiap tetesan luka yang makin melebar

Layar kosong
Terima kasih dengan kerja kerasmu mendengarkan
Terlebih setelah dua tiga perkara yang menusuk jantung

Image result for karikatur sedih
f/Istimewa
kesidahan ku adalah kesedihan yang tak beralasan

Kini aku sadar sia-sia itu benar adanya. Terlebih setelah anganku terbang terlalu jauh. Hingga lupa bagaimana rasa menginjak tanah. Salahkah angan ini? siapa yang harus aku salahkan? Ini bukan salah dia yang menjadi permaisuri dalam diam. Apa yang dia lakukan tidak salah sama sekali. Karena ia bermain dalam hidupnya dan berdiri atas dirinya.
Aku ingin menangis hingga berteriak. Berteriak kepada alam dan dinding yang putih. Lihatlah diriku yang diam dan takut menghadapi luka lama. Ah, sedihnya. Bukan, ini pasal menyedihkan akan ketakutan. Menyedihkan ketika cinta hanya bertepuk sebelah tangan dan hilang dalam diam.

Jika ia hilang tak masalah. Yang menjadi perkara adalah bias luka yang semakin menganga tanpa arah dan bergerak bebas seperti partikel. Aku menemukan kata baru, partikel luka yang bergerak bebas dalam relung hati kecil dan gelap. Tiap benturan terasa sakit dan pilu. Sampai sekarang masih sakit dan pilu.


berani menulis bukti berkarya

Nyanyian

Aku semakin terombang ambing dalam kesakitan. Hal ini nyata adanya. Semakin menusuk dan dalam.

Bagaimana caranya agar diriku dipeluk oleh semesta. Aku butuh nyanyian rindu ini. Rindu yang dalam

Tiap detik

Aku sudah berkata 'tidak' pada diriku sendiri dan kalian. Tapi, sakit itu masih ada ketika tahu keaslian yang terpapar. Aku akan menarik kesimpulan baru. Selama ini, aku hanya bermain di dalam pikiran sendiri untuk menenangkan diri namun gagal. Benar rasa sesak itu masih ada. Apakah aku harus pergi atau dia. Aku ingin pindah ke lain hati. Hati yang benar-benar kosong untuk diriku. Kenapa dulu ia hinggap? Hai capung, janganlah kau sembarang hinggap. Rasa ini sakit terlebih karena kenangan yang sempat terbuat. Aku ingin menghapus seluruh luka, namun diriku belum kuat menghapus semua kenangan yang membuatku hampir mati ini. Aku berharap ada ruang pemisah antara luka dan suka. Rasa suka ini merajut luka setiap detiknya. Tusukan jarum luka ini sangat sakit.

Debu

Suatu hal yang mahal tidak bisa dibeli dengan uang. Kepercayaan. Semakin lama aku merasa hal itu hilang dari diriku. Entah bagaimana caranya agar ia datang dan menghujani ku lagi. Aku rindu aku yang dulu. Yang diberi banyak kepercayaan dan semangat. Aku sekarang hanya sebutir debu yang menumpang terbang pada angin

Puisi mu

Kini aku tahu kepastian dari puisi mu selama ini. Sedih memang, tapi itu pilihanmu untuk menentukan kepada siapa puisi itu berlabuh. Sakit tidak, karena sejatinya aku tahu itu bukan aku. Selamat saja untuk wanita penerima puisi mu. Ia berhasil melumpuhkan hati dan pikiran mu.

Malam kemaren

Biarlah ini jadi satu dari perjalanan panjang seperti hari-hari kemaren. Yang tidak ada menghadirkan rasa apa lagi cinta.

Biarlah ini jadi satu dari perjalanan panjang seperti hari-hari sebelumnya. Yang kosong tanpa bicara antara kita.

Biarlah ini jadi satu dari perjalanan panjang seperti hari-hari kemaren. Menjadi cerita mati ditemani angin penjemput subuh

Kamu

Aku akan tetap menunggu dengan memperbaiki diri. Menjaga hati ini susah, terlebih ketika godaan berdiri di depan mata.

Aku hanya akan diam dan memperbaiki diri. Entah itu untuk kamu, kamu, atau kamu yang lainnya.

Terima kasih telah mengingatkan

Teman

Dia adalah laki-laki bernama teman. Katanya lumayan bijak jika ditanya. Satu hal yang sangat ku kagumi padanya, ia tidak akan berkata tidak jika itu melukai.

Hujan 2

Hujan sore ini
membawa pulang kenangan kemaren
Segores luka kembali terbuka
Menganga lebar

Hai hujan sore ini
Kenapa engkau bawa ia kembali
Kembali mengulang sakit hati
Yang pasti telah terjadi

Hai hujan sore ini
Berhentilah turun ke bumi
Pergi kembali pergi
Bersama kenangan sore ini



berani menulis bukti berkarya

Kesendirian


Hidup dalam kesendirian itu sakit. Sehari-hari berkawan sepi itu perih. Andai mereka tahu, sebelum kesendirian ini tak bisa ditemani, maka mereka tak akan menyia-nyiakan kesempatan bermain bersama orang lain. Entah itu sekedar tegur sapa, saling menukar senyum atau bercanda dan bertengkar.
Seperti ada luka yang terbentuk dalam dan makin mendalam. Luka yang tak bisa dijamah oleh kasa pembalut atau obat merah dan pereda perih. Ia akan semakin menganga dan makin besar seiringan detak jarum jam. Bukan hitungan perjam atau menit, melainkan tiap satuan detik akan semakin menganga.
Lagu korea tak mampu menjadi penghibur dalam kesendirian. Coklat yang kata mereka mampu membawa suasana senang pulang, tak berkerja dalam kesepian. Kesendirian dan kesepian adalah dua perihal yang tak ada obat di dunia kecuali tidur.

Padang, 05 Marer 2018

                                                                                                                                                          20:54

berani menulis bukti berkarya aku tak menginginkan hal yang muluk menurutku sebenranya aku ingin menjadi pusat seperti dia mempunyai beribu ...