Harapan

Semakin berjalan sekarang aku sadar semuanya akan bisa melalui proses
Entah itu proses panjang atau instan
Semakin ke ujung semakin terasa bagaimana hakiki dari kepercayaan
Mungkin sekedar hal sepele tak berarti bagi mereka yang tak membutuhkan
Asal dia tahu pondasi keteguhan berasal dari kata kecil bernama percaya
Satu dua sekarang lebih dari itu yang harus dipertanggung jawabkan
Entah bisa atau tidak aku berusaha untuk tidak mengecewakan
Itu

Dipermainkan rindu

Aku dipermainkan rindu dua kali. Bodohnya, masih dalam lingkaran hari yang sama dan suasana mata yang itu juga.

Dua mutiara

Tadi, dua mutiara itu telah terjatuh di atas birunya langit senja. Senja yang tak lagi memberikan cahaya keemasan kini tertutupi oleh dua rintikan kecil. Gundahnya sudah lepas dan tak terpaut lagi. Harus ia sudahi sampai di sini saja. Hari menjadi batas pasti untuk berhenti. Bukan berarti menyerah, hanya saja ini titik halter terakhir. Semangat dan terjangkau jika mampu. Proses akan memberikan jawaban yang dibutuhkan.

Aku letih

Berhenti lelah. Sekarang bukan saatnya bermanja-manja. Ini sulit. Ya sangat Suli. Belum lebih dari 7 hari dalam seminggu, aku sudah menyerah. Bukan menyerah, tepatnya sedikit merasa letih. Bolehkah? Seharusnya tidak. Ini bukan pasar tempat tawar-menawar. Bukan karena merak kejam. Namun, harus ada harga pembayar kata komitmen. Berjuang dan terus belajar hingga titik yang dituju nampak dengan jelas. Bukan remang-remang, tapi jelas. Jelas hitam dengan putih yang ada

Kawan

Kita berbagi 3 semester ini
Menempuh jalan yang panjang sempit dan berliku
Kadang marah sedih senang kesal
Pada diri sendiri orang lain dan mereka
Berjuta aspirasi bercuat ketika bertemu
Sisa 4 semester lagi
Kita harus bisa

Oke gengs?

Jendela

Dari jendela lantai 3
Tidak ada yang nyata
Jangan menangis hanya karena getaran kecil
Mendengkur lah jika marah

Kesal

Tingkah seseorang tidak pernah bisa ditebak. Ia baik, jika dilihat dari satu sisi. Tapi, tidak menutup kemungkinan ia akan berubah menjadi makhluk yang paling jijik dimatamu. Mungkin ini hanya halusinasi bagi pengagum yang kesepian. Ia hebat dengan segudang prestasi dan kesuksesan yang gemilang. Tak ada yang dapat menyangka, ia jadikan itu alasan untuk menekan ketidakmampuan seseorang. Kecewa. Mungkin kata kecewa pas diletakan di sini sekarang. Atau rasa kagum yang keterlaluan dan tidak berbalas. Tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Semua khayalan berawal sendiri. Mungkin lagi, salah diri yang terlalu memujinya dan ketika ia salah diri tak mampu menerima. Tidak usah kaji siapa yang salah lagi. Cukup sampai di sini. Berhenti menanam bibit baru tanda kagum, suka atau apapun namanya itu. Ini harus jadi kali terakhirku.

berani menulis bukti berkarya aku tak menginginkan hal yang muluk menurutku sebenranya aku ingin menjadi pusat seperti dia mempunyai beribu ...