Sisa

Sisa hari ini, ada satu dua kata yang masih terucap hingga tengah malam menjelma. Tak apa, itu akan menjadi teman mimpi pada malam ini. Biarkan saja, ia hanya akan bermain bebas dan tetap kembali pulang dengan aman. Tak usah cemas, biarkan saja

Awan

Akan ada awan yang jauh digapai namun dekat dengan letak mata. Ketika hidup berjumpa dengan fatamorgana, berusahalah terus untuk sadar dan yakinkan hati kecil itu hanya sementara. Bukan berarti tidak ada, hanya ia akan hilang bagai asap pembakaran dibawa angin kencang. Sentaklah diri dengan listrik 100 volt yang dirasa mampu menyadarkan dari mimpi

Tangis tertahan

Ya aku salah karena mengkritik kalian yang sedang marah. Tapi, hari ini belum kuat menerima balasan cercaan yang keras itu. Entah siapa yang benar, tapi aku masih begitu rapuh untuk tetap memasang telinga dan duduk diam di sini. Andaikan boleh air mata ini jatuh. Mungkin ia sudah berderai dari tadi

Meneriman

Satu kata baru yang aku pelajari hari ini, dari seorang teman yang kerap hadir sebagai guru. Kata menerima. Bukan berbicara seberapa tinggi pangkat yang akan kau sandang. Bukan pula seberapa banyak pujian yang melekat pada pundak kecil manusia. Hari ini berbincang tentang seberapa berani engkau menerima kegagalan yang tidak direncanakan. Ketika suatu hal terjadi diluar kendali, seberapa tabah engkau menerima dan tetap berjalan teguh di atasnya. Ketika cita tak tercapai, seberapa besar keinginan yang tertinggal untuk tetap melanjutkan nya dan menerima apapun hasil nanti.
Kata hari ini tentang menerima. Seberapa sanggup engkau bersanding dengan kalimat ini.

Terima kasih teman guru

Harapan

Semakin berjalan sekarang aku sadar semuanya akan bisa melalui proses
Entah itu proses panjang atau instan
Semakin ke ujung semakin terasa bagaimana hakiki dari kepercayaan
Mungkin sekedar hal sepele tak berarti bagi mereka yang tak membutuhkan
Asal dia tahu pondasi keteguhan berasal dari kata kecil bernama percaya
Satu dua sekarang lebih dari itu yang harus dipertanggung jawabkan
Entah bisa atau tidak aku berusaha untuk tidak mengecewakan
Itu

Dipermainkan rindu

Aku dipermainkan rindu dua kali. Bodohnya, masih dalam lingkaran hari yang sama dan suasana mata yang itu juga.

Dua mutiara

Tadi, dua mutiara itu telah terjatuh di atas birunya langit senja. Senja yang tak lagi memberikan cahaya keemasan kini tertutupi oleh dua rintikan kecil. Gundahnya sudah lepas dan tak terpaut lagi. Harus ia sudahi sampai di sini saja. Hari menjadi batas pasti untuk berhenti. Bukan berarti menyerah, hanya saja ini titik halter terakhir. Semangat dan terjangkau jika mampu. Proses akan memberikan jawaban yang dibutuhkan.

berani menulis bukti berkarya aku tak menginginkan hal yang muluk menurutku sebenranya aku ingin menjadi pusat seperti dia mempunyai beribu ...