Rindu dan sepi

Kesepian dan kerinduan adalah dua sisi mata uang yang sama. Begitu kata Jostein Gaarder dalam putri Sirkus-nya. Aku percaya dan setuju. Ketika rindu itu datang, kesepian akan menyapa dengan lembut. Namun, mereka berjanji untuk berkunjung. Lihatlah rindu, ia berani menunjukkan diri secara terang-terangan, mengutip kata dalam kehidupan sehari-hari nya. Berbeda dengan kesepian. Datang dengan diam, duduk di sudut ruangan dengan tangan dan kaki terdekap. Kasihan sepi ini. Bukan ia tak ingin menampakkan diri, tapi hadirnya selalu dibenci

Merah

Aku tidak membutuhkan warna biru
Cukup hitam, merah, dan putih ini
Aku akan bersyukur dengan sepenuh hati
Menanti bersama ujung akhir

Kelas awal

Kelas mata kuliah umum Bahasa Indonesia.
Lucu, banyak kesalahan umum yang dimaafkan oleh masyarakat sendiri. Berbicara dengan bahasa sendiri memunculkan banyak cerita lucu. Padahal sudah lebih 13 tahun bahasa ini diperdengarkan ke telinga. Aneh, masih saja salah. Namun lebih mirisnya, kesalahan tersebut dimaafkan tanpa tanda bagai dimaklumi saja. Kasihan guru bahasa Indonesia, katanya. Berjuang untuk hal yang ditiadakan bersama.

Awal lagi

Ini tentang kisah lama yang akan berulang. Aku lupa bagian awal dan akhir yang memiliki klimaks mustahil. Pemeran utama susulan disiapkan dengan dandanan yang menawan. Akankah cerita akan berujung tragis??

Duka

Andai dapat ku kabarkan duka yang ada dalam relung hati ini. Aku hanya berandai agar ada yang mengerti. Urungkan lah. Akan ku urungkan karena ku tahu duka yang tersimpan bukan untuk dikabarkan pada angin malam

berani menulis bukti berkarya
Yusuf Arifin, Redaktur Kolaborasi Kumparan. f/Istimewa

Mungkin terhitung baru aku bergelut di dunia pers mahasiswa. Terhitung sepuluh bulan  Selama waktu itu, banyak sekali pengalaman baru yang aku jumpai. Kali ini aku akan mengisahkan pertemuan dengan dua orang lelaki yang sangat ku saluti. Sebut saja lelaki satu, ia termasuk wartawan senior di Indonesia. Namanya Yusuf Arifin, sekarang ia  menjabat sebagai Redaktur Kolaborasi di Kumparan. Mungkin, jika kalian biasa dengan dunia jurnalistik, nama ini sudah tidak asing lagi. Kami bertemu pada sebuah acara yang diselenggarakan Surat Kabar Akmpus Ganto Universitas Negeri Padang. Kebetulan, pada acara Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut Nasional itu, aku diamanahi sebagai anggota humas. Peruntungan selalu tahu jalan pulang, begitu menurutku. Kami bercerita tentang pengalaman hebat yang telah dialaminya. Dilihat dari wajahnya, menurutku ia berusia sekitar 55 tahunan. Rambutnya sudah hampir putih semua. Hal unik dari penampilannya, ia menggunakan kaca mata yang mirip dengan kaca mata Harry Potter dan hanya dengan baju kaos biasa. Apakah kalian tahu? Ia telah bergelut di dunia jurnalistik sekitar 30 tahunan, hampir separuh hidupnya. Keluar masuk penjara pernah dialaminya pada masa orde baru. Di mana ia dulu aktif menyuarakan suara rakyat yang menentang pemerintahan. Tidak hanya itu, bahkan ia pernah dimasukan ke daftar hitam dalam pers Indonesia. Peruntungan, kita sebut saja dengan peruntungan. Peruntungan yang membawanya terpaksa angkat kaki dari bumi Indonesia. Ia menjamah negeri orang, yaitu inggris. Aku lupa nama tempat pastinya, tapi itu di negeri Inggris. Itu yang aku ingat. Ia kembali bercerita kehidupannya di negeri orang. Mulai dari menyesuaikan makanan, sosial dan pekerjaan. Ah, ku rasa tulisan ini tidak cukup mampu menceritakan kehebatan yang dimiliki lelaki satu ini. namun, hal yang sebenarnya ingin aku sampaikan adalah tak ada sedikitpun terasa menggurui saat mengobrol dengannya. Tak ada kesombongan yang tampak, padahal ia telah melewati hal yang sangat luar biasa menurutku. Di sini aku tersadar, manusia pada hakikinya jika ia telah menduduki kursi atas takkan ia mendongkak ke atas melainkan melihat ke bawah, hanya saja kebanyakan dari manusia, ia merasa seolah-olah telah berada di atas dan sombong juga angkuh atas apa yang milikinya. Mereka yang sejatinya telah menjadi orang hebat takkan sombong, kecuali kau hanya merasa sok hebat.

berani menulis bukti berkarya aku tak menginginkan hal yang muluk menurutku sebenranya aku ingin menjadi pusat seperti dia mempunyai beribu ...