Aku dulu peenah

Aku pernah berharap menjadi dia dalam setiap tulisanmu. Menjadi rindu tempatmu pulang ketika lelah. Aku pernah sangat ingin hadir di balik jiwamu yang hangat. Di tempat kau meletakan satu kata yang bernama hati. Aku ingin, kotak itu hanya untuk aku seorang.  Menjadi ratu dan raja dalam dirimu.

Setelah ku ingat lagi, itu hanya inginku dulu. Aku memang pernah ingin, tapi bukan keinginan sekarang yang harus terwujud

Suara yang Tak bersuara

Jangan biarkan kenangan itu terhapus dengan air pantai yang tidak bersalah. tungggu saja akan kehening yang datang.




Aku berbohong. Getaran itu sebenarya ada. Lebih dari apa yang bisa disuarakan. Jangan tanya kapan ia muncul. Apa lagi seberapa besar percikan api yang akan berkobar. Lebih, sangat lebih dari apa yang ada. Bukan hanya ketika berdua saja. Keramaian pun membawa angan ke mimpi nun jauh di sana. Sekali, dua kali, bahkan berkali-kali ia muncul dan hinggap. Tapi, aku berusaha membuang sejauh-jauhnya. Mengatas nama kan keluarga yang membawa semua kestabilan menuju ke alam nyata. Bukan kali ini, sudah ku katakan berkali-kali. Entah ketika berbohong itu baik atau tidak. Aku hanya mencoba mencari titik aman untuk melirik dan menyadarkan diri untuk sementara. Aku tidak marah dengan ucapanmu yang menyakitkan itu. Sungguh, aku tidak marah. Andai engkau tahu, aku sangat berterima kasih, namun tidak sampai meluncurkan kata itu keluar. Maaf, sekali lagi maaf. Kata ini tertuju pada Allah yang seharusnya ku pertimbangkan dalam setiap pertimbangan. Biarkan suara yang tak dapat disuarakan itu menjelma menjadi tulisan yang dapat dibaca ini. Ini rahasia antara tinta dan kertas saja.



Selain wartawan

Tidak hanya wartawan. Seharusnya semua mata harus jeli dalam menilai. Jangan pernah berat ke kiri atau ke kanan. Seharusnya imbang dan menunjukkan apa adanya. Sering kali, kita mendorong orang lain untuk menolong. Tapi, apa yang kita lakukan? Masih duduk santai di belakang meja. Manusia harus saling menasehati. Memang, aku pun setuju sekali. Sangat setuju. Tapi, tidak ada salahnya juga saling memperbaiki diri. Jika memang ingin membantu, silahkan angkat tangan dan ucapakan. "Ada saya, saya saja, saya mau." bagaimana??

Sisa

Sisa hari ini, ada satu dua kata yang masih terucap hingga tengah malam menjelma. Tak apa, itu akan menjadi teman mimpi pada malam ini. Biarkan saja, ia hanya akan bermain bebas dan tetap kembali pulang dengan aman. Tak usah cemas, biarkan saja

Awan

Akan ada awan yang jauh digapai namun dekat dengan letak mata. Ketika hidup berjumpa dengan fatamorgana, berusahalah terus untuk sadar dan yakinkan hati kecil itu hanya sementara. Bukan berarti tidak ada, hanya ia akan hilang bagai asap pembakaran dibawa angin kencang. Sentaklah diri dengan listrik 100 volt yang dirasa mampu menyadarkan dari mimpi

Tangis tertahan

Ya aku salah karena mengkritik kalian yang sedang marah. Tapi, hari ini belum kuat menerima balasan cercaan yang keras itu. Entah siapa yang benar, tapi aku masih begitu rapuh untuk tetap memasang telinga dan duduk diam di sini. Andaikan boleh air mata ini jatuh. Mungkin ia sudah berderai dari tadi

Meneriman

Satu kata baru yang aku pelajari hari ini, dari seorang teman yang kerap hadir sebagai guru. Kata menerima. Bukan berbicara seberapa tinggi pangkat yang akan kau sandang. Bukan pula seberapa banyak pujian yang melekat pada pundak kecil manusia. Hari ini berbincang tentang seberapa berani engkau menerima kegagalan yang tidak direncanakan. Ketika suatu hal terjadi diluar kendali, seberapa tabah engkau menerima dan tetap berjalan teguh di atasnya. Ketika cita tak tercapai, seberapa besar keinginan yang tertinggal untuk tetap melanjutkan nya dan menerima apapun hasil nanti.
Kata hari ini tentang menerima. Seberapa sanggup engkau bersanding dengan kalimat ini.

Terima kasih teman guru

berani menulis bukti berkarya aku tak menginginkan hal yang muluk menurutku sebenranya aku ingin menjadi pusat seperti dia mempunyai beribu ...