Hari ini

Dulu, kita juga sering kayak gitu. Saling komen status, sekedar sapa kabar, saling menyemangati, berbagi kisah hari ini. Aku sempat terbang dan tak ingin kembali ke bumi. Namun, sekarang kita sudah jauh. Bahkan untuk sekedar tanya kabar tidak pernah lagi. Tapi kini aku tahu, kau berlaku seperti itu tidak hanya padaku seorang. Aku mendapat kabar yang sama dari dia. Aku hanya terlalu berharap kepada seseorang yang belum tentu siapa dia untuk ku. Hal yang dulu kita lakukan kini berganti menjadi hal yang sekarang kau lakukan dengan dia. Untuk waktu yg lebih panjang, ku rasa akan ada dia kedua, ketiga dan seterusnya. Sekarang aku tahu dan berhenti. Selamat tinggal

Prasangka

Aku tidak akan berprasangka lagi. Entah itu baik atau buruk. Mungkin memang harus bertahan agar rindu itu tahu posisi dan hilang selamanya. Ini bukan perihal satu dua hari, masih panjang jalan yang harus ditempuh. Takkan bisa dilalui jika sendiri. Aku butuh dia, kamu, dan mereka. Prasangka buruk itu harus hilang. Tapi, untuk kalian itu terserah. Aku hanya bisa tersenyum

catatan ketika aku GALAU


Sekitaran pukul 11.33 tadi, aku mencoba menghilangkan jenuh tugas yang menumpuk dengan menjejaki rak buku SKK ganto. Membolak-balik satu tua tiga buku untuk mencari judul yang pas untuk menemani jenuh siang ini. Hampir setengah jam, aku berdiam dalam salah satu buku novel remaja menurutku. Bukan karena penulisnya remaja atau bagaiman, bagiku novel yang membahas cinta dalam khayalan adalah novel remaja. Ketika si tokoh utama mengagumi lelaki yang ia rasa tidak pantas atau sebanding dengannya yang kemudian akan meminangnya secara langsung pada waktunya. Mungkin, sebagian kalian tidak setuju dengan konsep ini, tapi bagiku tetap itulah kisah cinta remaja. Bukan berarti aku menunnafikan bahwa hal itu indah dan ada di kehidupan sehari-hari, tidak. Hanya saja bagiku hal itu adalah kisah cinta yang terlalu sempurna dan tidak bisa didapat oleh sembarangan orang dan hanya hidup dalam imajinasi remaja. Aku tidak menuntut kalian untuk setuju ataupun mendeoat pendapatku, hanya saja itiu pandanganku.
Di sini aku ingin menyuarakan suara yang tak bersuara ini. Entah kenapa, membaca buku itu hanya membuatku galau. Dari jenuh pindah ke galau. Bukan karena aku juga memiliki kisah galau seperti itu. Tidak. Hanya saja, galau saja.

Kemudian aku berfikir, apa penyebab galau ini? apakah buku ini? cerita ini? atau hal lain yang tidak dapat ku lukiskan dalam kata untuk kalian yang membaca. Entah lah. Mungkin ini hal yang tidak terlalu penting. Aku hanya ingin menyampaikan “ AKU GALAU”
berani menulis bukti berkarya

Hilang

Kepingan itu hilang lagi. rasanya makin berkurang dari hari ke hari. Entah kepada siapa pesan akan dikirimkan. Surat sudah menumpuk sejak ribuan tahun yang lalu. kemaren berkata tidak, karena saya tidak bisa berkata iya. ah, malasnya, sebal terhadap diri sendiri. Permainan ini persoalan hati. Entahlah, banyak yang buram. Semakin hari semakin sakit dan hilang rasa percaya diri. Ini akan beujuuke nistaan atau pada hal bahagia? Semalam semakin parah, luka kecil tergores ulang.

Sembunyi

Pertengkaran terjadi  di dalam diri sendiri. Selayaknya ia tahu, bang dirinya tak dapat memiliki secara utuh. Sampai kapan pun. Sekali pun ia telah resmi menjadi pendamping hingga akhir. Pada dasarnya, ia akan menjadi milik ibunya. Bukan dirimu. Berlainan hal dengan dirimu yg akan menjadi miliknya. Seratus persen tanpa kurang satu bagian pun. Tiliklah, sekarang dimana posisi dia dan dirimu. Siapa dia bagimu dan siapa dirimu baginya. Dia punya umum, untuk sekarang itu saja. Jangan pernah berharap atau memikirkan akan merantai ya dengan belenggu keegoisan. Dirimu hanya pecinta yang tersembunyi

Rindu dan sepi

Kesepian dan kerinduan adalah dua sisi mata uang yang sama. Begitu kata Jostein Gaarder dalam putri Sirkus-nya. Aku percaya dan setuju. Ketika rindu itu datang, kesepian akan menyapa dengan lembut. Namun, mereka berjanji untuk berkunjung. Lihatlah rindu, ia berani menunjukkan diri secara terang-terangan, mengutip kata dalam kehidupan sehari-hari nya. Berbeda dengan kesepian. Datang dengan diam, duduk di sudut ruangan dengan tangan dan kaki terdekap. Kasihan sepi ini. Bukan ia tak ingin menampakkan diri, tapi hadirnya selalu dibenci

berani menulis bukti berkarya aku tak menginginkan hal yang muluk menurutku sebenranya aku ingin menjadi pusat seperti dia mempunyai beribu ...