Kemenangan

Aku akan berpegang pada kata 'Mari menuju Kemenangan' yang dilandaskan lima kali sehari. Aku akan percaya itu dengan segenap hati. Hingga perubahan akan terlihat dan dapat dirasakan.

Welcome back

Aku sudah lama berhenti membuat kata-kata galau. Berhenti menjadi penyair yang merangkai satu dua kata yang tercecer. Ah, tapi ini tidak lama. Hari ini mulai lagi dan berawal. Welcome back saja. Dan nikmati apa yang akan terjadi

Lagi

Sampai sekarang air mata itu masih keluar
Entah karena sakit lama atau pengetahuan baru
Ia masih mengalir
Menjemput duka yang kian mendalam dan perih
Hai sedih, pulanglah

Ambisi

Aku menemukan ambisiku dulu pada dirimu yang sekarang. Ia berapi-api bergejolak siap melahap ilalang kering kerontang di Padang rumput. Bukan cuma satu, beribu bahkan berjuta gagasan muncul dan siap melompat keluar bagai harimau melihat anak kancil. Ah, itu ambisiku dulu. Kini ia telah hilang tersesat dalam hutan ketakutan.

Aku ingin bertanya. Apakah ambisiku sekarang akan seperti ambisiku sekarang?
Siapakah yang bisa menjawab tentang ambisi ini?

Memerlukan matamu

Aku memerlukan matamu
Bukan sekedar meminta kata cantik untuk bajuku
Atau sekedar menilai manis topi baruku

Aku memerlukan matamu
Yang dapat menjelaskan padaku perkara salah yang aku kerjakan
Rinci dari atas hingga bawah

Aku memerlukan matamu
Yang akan membenarkan salah
Namun hati tidak luka mendengar nasihat kasar

Kemaren, nanti, dan besok
Aku memerlukan matamu

Terima kasih

Aku hanya bisa berkisah padamu layar kosong
Mengeluhkan hal yang telah berlalu
Mencari makna tersembunyi dalam kelabu
Menanti arti panjang dalam kisah ku yang singkat

Aku hanya bisa bercerita padamu layar kosong
Mencurahkan rasa sakit yang makin mendalam
Mengikis dendam yang tebal
Menangkis setiap tetesan luka yang makin melebar

Layar kosong
Terima kasih dengan kerja kerasmu mendengarkan
Terlebih setelah dua tiga perkara yang menusuk jantung

Image result for karikatur sedih
f/Istimewa
kesidahan ku adalah kesedihan yang tak beralasan

Kini aku sadar sia-sia itu benar adanya. Terlebih setelah anganku terbang terlalu jauh. Hingga lupa bagaimana rasa menginjak tanah. Salahkah angan ini? siapa yang harus aku salahkan? Ini bukan salah dia yang menjadi permaisuri dalam diam. Apa yang dia lakukan tidak salah sama sekali. Karena ia bermain dalam hidupnya dan berdiri atas dirinya.
Aku ingin menangis hingga berteriak. Berteriak kepada alam dan dinding yang putih. Lihatlah diriku yang diam dan takut menghadapi luka lama. Ah, sedihnya. Bukan, ini pasal menyedihkan akan ketakutan. Menyedihkan ketika cinta hanya bertepuk sebelah tangan dan hilang dalam diam.

Jika ia hilang tak masalah. Yang menjadi perkara adalah bias luka yang semakin menganga tanpa arah dan bergerak bebas seperti partikel. Aku menemukan kata baru, partikel luka yang bergerak bebas dalam relung hati kecil dan gelap. Tiap benturan terasa sakit dan pilu. Sampai sekarang masih sakit dan pilu.


berani menulis bukti berkarya

berani menulis bukti berkarya aku tak menginginkan hal yang muluk menurutku sebenranya aku ingin menjadi pusat seperti dia mempunyai beribu ...