Kanvas Putih


Lihatlah kanvas lusuh di tepi kamar itu. Kanvas itu tak lagi putih. Hari demi hari, warnanya makin gelap dan kelam. Satu titik putih pun tak lagi terlihat. Kanvas itu menjadi bukti perjalanan hidupnya.
Dulu, berbagai warna terlukis di atas kanvas putih polos yang baru. Warna kuning melambangkan keceriannya pada hari-hari itu. Ada biru tanda kedamaian dalam jiwa tenangnya. Merah pun hadir sebagai emosi yang kadang ia luapkan. Warna pelangi selalu ada menghiasi hari-hari bahagianya dulu.
Kanvas putih itu hanya kenangan belaka. Kini, bahkan  setitik warna pun tak bisa lagi dilihat pada kanvas lusuh itu. Hitam, hanya kanvas hitam ang tersisa. Kejam kehidupan membuat warna tersendiri di atas kanvasnya.
Berawal dari satu titik kejahatan. Warna itu terus menyebar dan menutupi seluruh warna yang telah diukirnya dulu. Kini, ia hanya bisa melihat kanvas warna-warni dalam imajinasi saja. Kehidupannya telah tertutupi dengan kejahatan dan kebohongan.
Ia rindu, namun, tak dapat berkata apapun untuk mengembalikan kanvas putih polos barunya.

Hamba Subuh



Ah sungguh disayangkan. Kukuk ayam telah berbunyi. Para hamba Allah telah menjelajahi bumi subuh sedari tadi. Tapi sayang, engkau yang mengaku salah satu hamba-Nya, masih terlelap dalam buaian mimpimu. Entah engkau sadar atau tidak, sedari tadi telah banyak manusia yang bangun dari tidurnya hanya untuk bertemu pujaan hatinya subuh ini.
Kumandang adzan telah bersaut-saut dari tadi. Tak terhitung ajakan solat pada dirimu. Tapi engkau masih terlelap dalam tidurmu. Ku yakin engkau tahu pasti mengerti arti panggilan subuh ini. tak perlu ku gurui engkau pasal ini. Ku ingat-ingat lagi, dulu engkau pernah berkata bahwa engkau rindu bertemu-Nya. Engkau cinta dan ingin berbalas kasih dengan-Nya.
Saat itu, aku benar-benar berharap engkau paham dengan maksut kata-katamu. Namun aku salah, kepahamanmu tak sempurna akan kata itu. Apakah mungkin engkau khilaf?. Apakah dibenarkan jika kita khilaf setiap hari?. Ah entahlah, ku hanya berharap engkau segera sadar akan statusmu sebagai hamba-Nya. Engkau mengetahui kewajibanmu kepadanya.

Air Mancur Kota Harapan





Pagi hari di Kota Harapan selalu ramai warga berlalu lalang. Kota ini tak terlalu besar. Penduduk penghuni kota ini hanya sekitar 1.000 jiwa saja. Kota kecil dengan penduduk yang sedikit, menjadikan kota ini damai dan tentram.
Sama seperti pagi-pagi biasanya, toko-toko di sekitar Air Mancur Harapan telah bersiap menyambut hari ini. Aroma kuat dari toko kue Lovely menghiasi pusat kota. Toko kue Lovely selalu ramai di kunjungi oleh remaja atau pun orang dewasa yang suka menikmati pemandangan air mancur kota ini. Lantai dua toko ini selalu menjadi tempat favorit bagi siapa saja, walaupun itu pagi, siang dan malam hari.
Tak hanya toko Kue Lovely, toko Bunga Mekar juga tak ingin kalah menyebarkan harum semerbak bunga-bunga kembangnya. Toko bunga Mekar berada di seberang toko kue Lovely, pertemuan aroma keduanya bisa dinikmati oleh warga kota tepat di sekeliling air mancur Harapan. Mulai pagi, jejeran kembang telah menghiasi depan toko bunga Mekar.
Masih banyak toko lagi di sekeliling air mancur Harapan, tapi kisah kali ini tentang dua toko ini saja. Ia masih belum berani memandang toko bunga Mekar secara terang-terangan. Secara sembunyi-sembunyi, matanya melirik toko bunga Mekar yang berada di seberang sana. Alex, sudah setahun lamanya ia berkerja sebagai pembuat roti di toko kue Lovely. Terhitung sejak awal ia berkerja, setiap mengantarkan kue yang sudah masak ke depan toko Alex selalu menyempatkan diri memandang toko bunga Mekar. Tidak berani berlama-lama, Alex selalu mencuri pandang.
Pagi ini, Alex menggantikan tugas Dion, teman kerjanya menyusun kue di rak-rak depan toko. Dion menghubungi Alex pagi ini bahwa ia tidak enak badan sehingga tidak masuk kerja. Dion juga meminta Alex menggantikan sementara perkerjaannya menyusun kue di rak-rak pagi ini. Dengan senang hati, Alex menyanggupi permintaan Dion.
Aku bisa melihatnya dengan jelas jika dari depan, batin Alex. Pagi ini, Alex berangkat kerja dengan hati yang berbunga-bunga. Namun sayang, masih sama seperti pagi-pagi sebelumnya, Alex hanya mencuri pandang ke toko bunga Mekar. Seolah-olah fokus pada perkerjaan Alex hanya menyusun roti ke rak-rak sambil menggerutu. Alex gerogi saat berada tepat di depan toko bunga Mekar. Tak sengaja Alex menjatuhkan satu roti berbentuk hati dengan warna merah jambu.
“Apakah kamu akan membuang kue itu?,” suara wanita penjaga toko bunga Mekar menyapa pagi Alex.
“Ah, iya,” jawab Alex dengan gemetar. Alex hanya menunduk menatap tanah. Ia tidak berani memandang pesona Tuhan di depannya itu.
“Bolehkah aku mengambilnya, akan ku berikan ke burung-burung di sekitar air mancur ini?,” tanya wanita penjaga toko bunga Mekar.
“Tentu, ambil saja,” Alex bergegas masuk ke dalam. Jantungnya serasa meloncat-loncat mengelilingi air mancur harapan. Dari balik tirai jendela yang terbuka sedikit, Alex mengintip ke luar. Ia memandangi wanita penjaga toko bunga Mekar melenggang jauh dari pandangannya. Sepersekian detik, waktu serasa berhenti. Alex terlena dengan kejadian pagi ini.
Ah, andai saja tadi aku menatap wajah cantiknya. Andai aku berani berbincang lebih jauh dengannya. Ah, andai saja... sudahlah, bahkan, namanya saja aku tak tahu.
 Alex merasa menyesal dalam hatinya. Selama satu tahun terakhir ini, Alex selalu mencuri pandang pada wanita penjaga toko bunga Mekar. Selama satu tahun terakhir ini, Alex selalu berangkat kerja pagi-pagi, agar melihat wanita penjaga toko bunga itu.
Selama satu tahun Alex menunggu kesempatan seperti pagi ini, tapi ia tak sanggup berkutik di depan wanita penjaga toko bunga Mekar. Kini, Alex hanya berteman dengan penyesalannya pagi ini. Alex menjalani hari dengan suram dan gelap. Harapanya hilang dalam gelap penyesalannya.
Keesokan harinya, Alex tak lagi terlihat di toko kue Lovely. Tak ada pembuat roti Alex lagi di sana. Alex memilih meninggalkan toko kue Lovely dan kenangan Wanita penjaga toko bunga Mekar. Alex berhenti dan memilih pergi jauh dari air mancur kota Harapan.

...

Pagi ini, sama seperti pagi biasanya. Penghuni kota harapan telah bangun dari peraduan. Aktivitas telah menunggu. Jantung kota telah ramai oleh warga kota Harapan. Wanita penjaga  toko bunga Mekar mulai menyusun berbagai kembang cantik di rak-rak depan toko. Toko yang persis berada di depan air mancur Harapan ini selalu buka mulai dari pagi hari hingga malam. Berbagai jenis dan warna kembang tersedia di sini.
Lia, wanita penjaga toko bunga Mekar ini telah berkerja selama satu tahun. Setahun yang lalu Lia menerima pekerjaan ini dengan senang hati karena hobinya. Bukan hanya itu, yang membuat Lia bertahan berkerja di toko bunga Mekar adalah pembuat kue toko Lovely di seberang air mancur.
Hampir setiap pagi, Lia mengamati Pembuat kue toko Lovely dari depan tokonya di sebalik air mancur harapan. Setiap pembuat kue toko Lovely mengantarkan kue ke depan Lia selalu menyempatkan diri berdiri di depan tokonya. Semakin hari berlalu, alarm Lia selalu berdering jika pembuat kue toko Lovely keluar ke depan tokonya.
Pagi ini, Lia tak melihat penjaga toko kue Lovely. Ia hanya melihat si pembuat ku toko Lovely saja. Pagi ini, Lia memberanikan dirinya untuk menyapa pembuat kue toko Lovely. Pembuat kue itu tanpak sedang menyusun kue-kue di rak dengan sangat teliti. Ah, ia terlihat tampan dengan topi masaknya itu, ujar Lia dalam hatinya.
Pagi ini, Lia memutuskan untuk menegur dan mengobrol dengannya. Sudah cukup lama Lia menahan perasaan kepada pembuat kue toko Lovely. Ia kagum dari awal berkerja di seberan toko kue Lovely. Pembuat kue toko Lovely menjatuhkan kue berbrntuk hati berwarna merah jambu.
“Apakah kamu akan membuang kue itu?,” Lia mencoba memulai percakapan dengannya.
“Ah, iya,” jawab pembuat kue toko Lovely tanpa memandang Lia.
“Bolehkah aku mengambilnya, akan ku berikan ke burung-burung di sekitar air mancur ini?,” tanya Lia. Ia berharap percakapan ini akan terus berlanjut.
“Tentu, ambil saja,” jawab pembuat kue toko Lovely dan berlalu ke dalam.
Lia mengambil kue berbentuk hati berwarna merah jambu itu. Di bagikannya kue itu ke burung-burung merpati yang biasa hinggap di sekliling air mancur.
Ah, apakah kata-kataku ada yang salah?. Kenapa pembuat kue itu tak memandangku?. Bahkan namanya saja aku tak tahu.
Kini setiap pagi, Lia selalu berharap kesempatn itu berulang kembali. Lia telah menyiapkan perkataan yang lebih baik. Bahkan, Lia telah menghafal kata-kata yang akan diucapkannya kettika bertemu dengan pembuat kue toko Lovely.
Namun sayang, semenjak pagi itu, Lia tak pernah lagi melihat pembuat kue toko Lovely berdiri di depan rak-rak tokonya. Siluetnya pun tak terlihat ketika pembuat kue mengantarkan kue yang sudah dimasak ke depan.
Semenjak pagi itu, Lia selalu menunggu.

Hanya air mancur Harapan yang tahu apa yang sebenarnya terjadi diantara Alex dan Lia. Air mancur harapan menjadi saksi bisu cinta dalam diam Alex dan Lia.


11:38, 17 Juli 2017
Padang Utara.

mungilku






Hai mungil, pagi ini aku bertemu lagi dengan senyummu. Apa kabar mungilku?. Aku rindu mendengar celoteh bibir kecilmu. Kadang pertemuan kita diwarnai pertengkaran lucu. Engkau dengan bibir kecilmu selalu berargumen seolah-olah benar. Namun, katamu tak pernah ku jadikan dendam.
Seolah menyalahkan dirimu, aku juga merasa benar jika di depanmu. Kusadari, kadang kala kataku menusuk hati lembutmu. Walaupun bertemu denganmu dipenuhi pertengkaran, aku selalu merindukan momen ini. cekcok yang dibumbui canda tawa ini, tak akan pernah bisa ku lupakan.
Mungilku, andai engkau tahu. Aku telah menantikan pertemuan denganmu ini dari jauh hari. Bahkan malam tadi, mataku tak sanggup tertutup karena membayangkan pertemuan kita. Ah, rindunya. Terlepas sudah rinduku.
Mungilku, mungkin aku hanya satu dari sekian teman yang hadir di hidupmu. Tapi, aku ingin menjadi teman spesial bagimu. Pertama bertemu, aku terkesima dengan tawa bibir kecilmu. Kepribadianmu unik, begitu bagiku. Tawamu lepas tanpa beban. Ah, mungilku engkau sangat lucu.

Aku bertemu dengan mungilku setelah lama rindu.

berani menulis bukti berkarya aku tak menginginkan hal yang muluk menurutku sebenranya aku ingin menjadi pusat seperti dia mempunyai beribu ...