Mengulang Cerita lama

berani menulis bukti berkarya

Apakah senyumku terlihat dalam kegelapan cahaya? aku ingin kalian tahu, aku TERSENYUM. 


aku hanya ingin menjelaskan kembali apa yang engakau salah dalam mengerti. Ini bukan tetang perasaan yang lama terpendam dan tidak kesampaian. Jangan salah, ini bukan hari untuk itu. aku hanya akan menjelaskan sekali lagi apa arti getaran yang telah terjadi. bukan aku menjadi pengagum rahasia dengan catatan itu. kemarin, ketika pertanyaan itu muncul, aku tak bisa berkata akau punya. aku tak ingin ada kesalahan baru yang akan muncul dan memercikan dosa besar di dalam hati. mungkin, bukan denganmu, getaran itu milik yang lainnya. kuharap kau mengerti.

Seulah Kisah Aku

berani menulis bukti berkarya

Interkom yang sanggup bertahan hingga Mubes SKK Ganto UNP 2018. Kami saudara satu Interkom. Selama amanah kepengurusan masih di pundak, hal itu takkan pernah berybah walau sedikit pun. itu sudah menjadi pegangan hingga akhir. adalah harga mati yang ditawarkan, Kamis (4/1/2018). f/ Fauziah Rey

Aku akan mulai menyusun tangga yang pernah jatuh itu. Mengukir kembali dengan pena sisa yang telah habis dikikis peruncing tajam. Awalnya, ku sangka kepercayaan akan habis sampai di sini saja. Sudah cukup dengan semua dusta yang telah ada. Tapi, kali ini aku salah dalam menerka hujan yang akan turun. Ini ketiga kalinya akau memikul beban yang susah, namun pasti bisa ku kerjakan dengan kemampuan yang akan semakin terasah. Entah pantas atau tidak, aku tak lagi ingin berfikir itu. Sekarang ini ranahku, jangan kalian jamah dengan sembarang tanpa izin penuh dariku. Bukan aku ingin menjadi raja di atas raja, hanya saja agar kalian tahu siapa aku yang sebenaranya. Agar batas yang buram itu makin terlihat dengan mata telanjang. Aku si mata dua akan berdiri dengan tiang kepercayaan kalian., maka bantu akau agar bertahan dalam terpaan badai yang menghadang.

Aku dulu peenah

Aku pernah berharap menjadi dia dalam setiap tulisanmu. Menjadi rindu tempatmu pulang ketika lelah. Aku pernah sangat ingin hadir di balik jiwamu yang hangat. Di tempat kau meletakan satu kata yang bernama hati. Aku ingin, kotak itu hanya untuk aku seorang.  Menjadi ratu dan raja dalam dirimu.

Setelah ku ingat lagi, itu hanya inginku dulu. Aku memang pernah ingin, tapi bukan keinginan sekarang yang harus terwujud

Suara yang Tak bersuara

Jangan biarkan kenangan itu terhapus dengan air pantai yang tidak bersalah. tungggu saja akan kehening yang datang.




Aku berbohong. Getaran itu sebenarya ada. Lebih dari apa yang bisa disuarakan. Jangan tanya kapan ia muncul. Apa lagi seberapa besar percikan api yang akan berkobar. Lebih, sangat lebih dari apa yang ada. Bukan hanya ketika berdua saja. Keramaian pun membawa angan ke mimpi nun jauh di sana. Sekali, dua kali, bahkan berkali-kali ia muncul dan hinggap. Tapi, aku berusaha membuang sejauh-jauhnya. Mengatas nama kan keluarga yang membawa semua kestabilan menuju ke alam nyata. Bukan kali ini, sudah ku katakan berkali-kali. Entah ketika berbohong itu baik atau tidak. Aku hanya mencoba mencari titik aman untuk melirik dan menyadarkan diri untuk sementara. Aku tidak marah dengan ucapanmu yang menyakitkan itu. Sungguh, aku tidak marah. Andai engkau tahu, aku sangat berterima kasih, namun tidak sampai meluncurkan kata itu keluar. Maaf, sekali lagi maaf. Kata ini tertuju pada Allah yang seharusnya ku pertimbangkan dalam setiap pertimbangan. Biarkan suara yang tak dapat disuarakan itu menjelma menjadi tulisan yang dapat dibaca ini. Ini rahasia antara tinta dan kertas saja.



Selain wartawan

Tidak hanya wartawan. Seharusnya semua mata harus jeli dalam menilai. Jangan pernah berat ke kiri atau ke kanan. Seharusnya imbang dan menunjukkan apa adanya. Sering kali, kita mendorong orang lain untuk menolong. Tapi, apa yang kita lakukan? Masih duduk santai di belakang meja. Manusia harus saling menasehati. Memang, aku pun setuju sekali. Sangat setuju. Tapi, tidak ada salahnya juga saling memperbaiki diri. Jika memang ingin membantu, silahkan angkat tangan dan ucapakan. "Ada saya, saya saja, saya mau." bagaimana??

Sisa

Sisa hari ini, ada satu dua kata yang masih terucap hingga tengah malam menjelma. Tak apa, itu akan menjadi teman mimpi pada malam ini. Biarkan saja, ia hanya akan bermain bebas dan tetap kembali pulang dengan aman. Tak usah cemas, biarkan saja

Awan

Akan ada awan yang jauh digapai namun dekat dengan letak mata. Ketika hidup berjumpa dengan fatamorgana, berusahalah terus untuk sadar dan yakinkan hati kecil itu hanya sementara. Bukan berarti tidak ada, hanya ia akan hilang bagai asap pembakaran dibawa angin kencang. Sentaklah diri dengan listrik 100 volt yang dirasa mampu menyadarkan dari mimpi

berani menulis bukti berkarya aku tak menginginkan hal yang muluk menurutku sebenranya aku ingin menjadi pusat seperti dia mempunyai beribu ...