Mereka

Ini kembali ke kisah aku, kamu dan mereka. Tapi, kisah kali ini kamu bukan spesial seperti dukun kamu sama dengan mereka. Yang akan melengkapi satu tambah satu yang kita punya. Sekarang itu saja. Selamat malam

Kucing Keramat


Image result for karikatur kucing
f/ Istimewa



Aku tidak mencintainya. Aku tidak menyukainya. Aku juga tidak mengaguminya. Saat itu, aku hanya melihatnya sebagai kucing kecil yang terlantar. Aku memang memberinya rangkulan hangat yang kalian artikan sebagai kekasih. Tapi, bukan itu maksudku. Hanya sebagai penolong yang mencoba membuat ia tetap hidup.

Kalian, yang biasa menyebut diri pribumi, menganggap aku mencuri kucing kecil keramat itu. Padahal, aku hanya menolong kucing kecil yang kakinya terluka di pinggir jalan. Tak lebih dari itu. Kalian mengencam kata penjara kepadaku jika aku tak mengaku. Pencurian itu tidak pernah terjadi. Pada dasarnya, aku tak sengaja menemuinya.

Aku tidak keberatan mengembalikan kucing kecil keramat itu. Namun, aku sangat tidak suka dengan tudingan yang kalian berikan. Tingkah kalian membuat kucing itu takut kepadaku. Bahkan, sekarang kucing yang dulu tinggal bersamaku itu lari ketakutan jika mendengar langkah kakiku baru memasuki ruangan.

Terima kasih pribumi. Ini balasan setelah aku merawat kucing keramat kalian


berani menulis bukti berkarya

Sore ini di sini

Ini tentang menunggu tanggung jawab. Bukan perihal saya, dia, kamu, dan mereka. Tapi siapa yang ingin bergelut dengan kebenaran? Setelah lempar-melempar menjadi hal yang lumrah untuk sekedar dimaafkan. itu kata mereka, saya setuju dan tidak. Menghitung jerih dan keringat yang keluar. Membandingkan satu dengan yang lainnya. Saya di atas dan kamu di bawah tergeletak lesu, katanya. Dia tidak melihat peluh yang keluar dari ujung saku terkoyak.

Selesai

Sahabat sebelah mengatakan, aku bukan takut jatuh cinta, Tapi takut patah hati, karena itu aku menutup hati.

Belakangan ini aku telah membuka sedikit celah. Ku izin kan rasa itu masuk secara perlahan. Aku yakin, pada saat itu, aku akan merasakan hal terbaik dari dia yang kini hilang. Aku mempercayai dia akan menghilangkan rasa takut pada diriku. Salah, dia hanya mengingatkan ku akan ketakutan itu harus ada. Tidak ada hiburan dan tawar-menawar. Kini aku akan menutup hati, tanpa terkecuali pada siapapun. Tidak, dia, dia, dan kamu.

Hari ini

Dulu, kita juga sering kayak gitu. Saling komen status, sekedar sapa kabar, saling menyemangati, berbagi kisah hari ini. Aku sempat terbang dan tak ingin kembali ke bumi. Namun, sekarang kita sudah jauh. Bahkan untuk sekedar tanya kabar tidak pernah lagi. Tapi kini aku tahu, kau berlaku seperti itu tidak hanya padaku seorang. Aku mendapat kabar yang sama dari dia. Aku hanya terlalu berharap kepada seseorang yang belum tentu siapa dia untuk ku. Hal yang dulu kita lakukan kini berganti menjadi hal yang sekarang kau lakukan dengan dia. Untuk waktu yg lebih panjang, ku rasa akan ada dia kedua, ketiga dan seterusnya. Sekarang aku tahu dan berhenti. Selamat tinggal

Prasangka

Aku tidak akan berprasangka lagi. Entah itu baik atau buruk. Mungkin memang harus bertahan agar rindu itu tahu posisi dan hilang selamanya. Ini bukan perihal satu dua hari, masih panjang jalan yang harus ditempuh. Takkan bisa dilalui jika sendiri. Aku butuh dia, kamu, dan mereka. Prasangka buruk itu harus hilang. Tapi, untuk kalian itu terserah. Aku hanya bisa tersenyum

berani menulis bukti berkarya aku tak menginginkan hal yang muluk menurutku sebenranya aku ingin menjadi pusat seperti dia mempunyai beribu ...