Hai mungil, pagi ini aku bertemu lagi dengan
senyummu. Apa kabar mungilku?. Aku rindu mendengar celoteh bibir kecilmu.
Kadang pertemuan kita diwarnai pertengkaran lucu. Engkau dengan bibir kecilmu
selalu berargumen seolah-olah benar. Namun, katamu tak pernah ku jadikan
dendam.
Seolah menyalahkan dirimu, aku juga merasa benar
jika di depanmu. Kusadari, kadang kala kataku menusuk hati lembutmu. Walaupun
bertemu denganmu dipenuhi pertengkaran, aku selalu merindukan momen ini. cekcok
yang dibumbui canda tawa ini, tak akan pernah bisa ku lupakan.
Mungilku, andai engkau tahu. Aku telah menantikan
pertemuan denganmu ini dari jauh hari. Bahkan malam tadi, mataku tak sanggup
tertutup karena membayangkan pertemuan kita. Ah, rindunya. Terlepas sudah
rinduku.
Mungilku, mungkin aku hanya satu dari sekian teman
yang hadir di hidupmu. Tapi, aku ingin menjadi teman spesial bagimu. Pertama bertemu,
aku terkesima dengan tawa bibir kecilmu. Kepribadianmu unik, begitu bagiku. Tawamu
lepas tanpa beban. Ah, mungilku engkau sangat lucu.
Aku bertemu dengan mungilku setelah lama rindu.




