Important of sneezing
oleh: Dwi Agustini
Often times when we have a cold or allergy with dust we often experience sneeze. Sneeze is come out autonomous air hardly from nose and  mouth. The air can get speed 70 m/second ( 250 km/hour). When someone sneezing he can speard illness via small objects with diameter 0,5 until 5 m. And around 40.000 object can product at once time.
Observe from sains, sneeze is adaptation  reaction, cause step a side the snot contains with strang particle and clean up nasal cavity. When we are sneeze, the palate be soft and back side of  tongue up to close some rute of air to mouth so that the air  removed from  lungs to the nose. Cause that, closing mouth is the best way when we are sneeze.
Sneeze ussually connected with influenza, cold and cought. It’s not the only indication of influenza, but  it’s indication of illnes respiration too (for example rhinitis and selesma). Sometimes we are sneeze when we have a cold, the snot will impel out from the nose. It can contaminate virus to the other person around us. For  that, close your mouth and your nose with handkerchief to prohibit virus spreading.
Sneeze can export in thousands even tens of thousands virus and bacteria which have a nest at our body and it’s can guard our body from virus and bacteria to not enter to our respiration until cause all the illness which dangerous to our body.
Sneeze at Islam is the good things which Allah SWT loves.in the sme manner as Rasulullah SAW’s hadist:
“actually, Allah loves the sneeze person and  hates the evaporate person, so when you are sneeze make  much of Allah SWT, and every peoply heard that must to answers and   the evaporate is from evil, so prevent that as hard as you can. And when someone evaporate until take out sound aaaa..., so the evil laugh hence.”
( HR. Abu Hurairah)
C A G... Chemistry Angklung Group
Menampilkan lagu Happy Brithday di acara Gebyar Surat Kabar Kampus (SKK) Ganto  Universitas Negeri Padang (UNP), Sabtu (20/5).


Angklung Kami
oleh : Dwi Agustini

Hanya dengan bambu kami berani
Hanya dengan getaran kami maju
Hanya bermodalkan nada kami menantang
Hanya itu pelindung kami

kalian menggap ini mudah
kalian menggap ini murahan
tapi, jika kalian tahu
kalian akan berfikir mengucapkannya

maaf, bukan kami sombong
maaf, bukan kami angkuh
tapi kami ingin dimengerti

Style fashion remaja saat ini
Oleh: Dwi Agustini



Style fashion ABG saat ini yang sedang beken adalah memakai hot pants, tank top, short dress dan pakaian-pakaian mini lainnya di luar rumah. Tidak hanya itu, remaja pun hobi memakai pakaian yang bermodel sobek-sobek, ketat dan transparan atau “you can see”. Mereka tak segan-segan memakai pakaian tidak senonoh itu untuk pergi jalan-jalan ke taman, mall, pasar dan bahkan saat menghadiri acara-acara penting lainnya. Tanpa merasa malu, mereka seolah-olah berlomba memakai pakaian terseksi yang bisa dikenakan.
kita bandingkan dengan remaja pada zaman sebelumnya, remaja laki-laki pada zaman sebelumnya kerap memakai celana panjang dan baju yang sopan. Namun, remaja laki-laki sekarang biasa memakai celana jeans yang pendek dan terkadang pun sobek-sobek, serta memakai kaos singlet di tempat-tempat umum. Begitu juga dengan remaja perempuan pada zaman sebelumnya yang kerap memakai baju dan celana atau rok yang tertutup, rapi dan sopan. Sedangkan, remaja zaman sekarang banyak yang memakai pakaian “you can see” yang sering kali tidak enak dipandang, kurang sopan dan memperlihatkan sisi tubuh mereka sendiri.
Terlepas dari cara berpakaian tersebut, di dalam agama terutama agama Islam, pakaian ynag terbuka tidaklah sesuai dengan etika dan norma yang berlaku. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Q.S Al-A’raf ayat 26 yang terjemahannya, “ Hai anak adam, sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan ...”. nah, pakaian itu sendiri diciptakan untuk menutupi aurat bukan mengumbarnya. Memakai pakaian mini berarti telah mengumbar aurat yang seharusnya ditutupi dengan sebak-baiknya.
Tidak hanya itu, pakaian-pakaian mini ini juga menimbulkan banyak keburukan. Jika perempuan berpakaian mini maka laki-laki akan senang mengganggunya. Bahkan tidak sedikit kekerasan seksual yang terjadi disebabkan oleh tingkah dan gaya remaja yang tidak senonoh ini. Mengikuti perkembangan zaman bukanlah hal yang buruk jika kita dapat memfilter perkembangan tersebut.
Sebagai remaja penerus bangsa sudah sepantasnya kita memilih dan memilah perkembangan zaman. Bukan hanya mengikuti tren yang sedang ada dan melupakan etika dan norma yang berlaku.



Sepertiga malam

Tersadar
Terbangun diriku di sepertiga malam
Butiran permata jatuh ke tanah malam illahi
Teringat akan asal diri
Dan kemana diri ini akan pulang

Sendiri ku meratap
Meratap diri yang bingung akan arah
Kemana kaki ini akan ku langkahkan
Agar sampai ke tempat tujuan
Pemberhentian akhir dalam hidup

Ya robb
Mudahkanlah diri menghembus nafas terakhir
Saat Engkau ambil nyawa dari raga
Baikanlah ujung usia ini
Pada waktu Engkau panggil

Maka matikanlah diri ini dalam keadaan khusnul khotimah



Menanti Senja
Oleh: Dwi Agustini


Tidak Semua jingga senja adalah kebahagian. Meskipun banyak yang memandangnya dengan senyuman. Deretan awan yang mengudara dengan tenang menjadi saksi bisu akan kesedihan Aqila. Andai awan-awan itu dapat berbicara, mungkin ia akan mengabarkan pada orang-orang tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Aqila. Walaupun angin lembut yang berhembus tahu pasti tentang hati Aqila.

Gadis itu duduk di tepi sungai sambil membasahi kakinya. Aliran sungai yang deras ternyata tak mampu mengalahkan sungai suci di pipi Aqila. Matanya begitu sendu, dengan wajah sedih yang tak terkira. Jika semua orang bebas bermimpi, mengapa ia tidak? Batinnya meronta. Jika tak malu, mungkin ia akan memekik sekencang yang ia bisa.

Berkeinginan kuliah seolah hal yang salah baginya. Ia bermimpi bisa mengenyam bangku kuliah, merasakan tugas-tugas menumpuk, bermain bersama teman di akhir pekan dan hal-hal lain yang selama ini didengarnya dari tetangganya yang telah kuliah. Namun, bermimpi untuk kuliah bukanlah hal yang bisa Aqila rasakan. Sehari sebelum kelulusan sekolahnya keluar, kabar dari seberang telah menyayat hati Aqila.

“Aqila, ibu sebenarnya tidak ingin memutus harapanmu untuk kuliah nak,” kata ibu pada Aqila saat senja mulai menyelimuti langit sore.

“Maafkan ibu nak, bukan ibu tak ingin menguliahkanmu. Tapi, ibu tak punya uang untuk menguliahkanmu. Sedangkan adik-adikmu masih butuh biaya,” kata-kata ibu mengiris hati Aqila.

Tak tau apa yang akan dikatakanya pada ibu. Kaki Aqila berlari menjauh. Tak sanggup mellihat ibu yang berharap besar pada dirinya. Pedih, menangis hatinya dalam diam dan uraian air mata. Di tepi sungai ia lepas dalam diamnya. Harapannya untuk kuliah, hancur bagai hujan deras di panasnya siang hari.

Malam telah duduk di singgasana hari. Namun, Aqila belum juga pulang menuju rumah. Enggan, malas ia pulang. Kenapa susah bagiku untuk bercita-cita? Salahkah aku jika bermimpi kuliah?. Aqila mengadu pada deras aliran sungai di penghujung hari.

Banyak hal yang ingin ia lakukan saat menginjakan kaki di kampus. Bukan hanya bermain-main, ia sangat ingin menyambung prestasi-prestasi yang telah didapatnya di bangku SMA. Mengikuti berbagai perlombaan, menghadiri berbagai seminar, ikut oraganisasi kampus dan banyak mimpi lain yang ingin ia lakukan. Ia pun bermimpi bisa terbang ke luar negeri dengan gratis melalui prestasinya.

Aqila teringat akan tumpukan piala di kamarnya. Kini piala itu hanya benda kosong yang tak berarti, batin Aqila dalam keputusasaan yang panjang. Untuk apa semua usahaku selama ini, aku belajar siang dan malam, mengorbankan waktu mainku hanya untuk meraih nilai yang tinggi. Tapi kini apa? Kuliah saja aku tak bisa, bagaimana aku akan meraih mimpiku yang lain??.

Bulir permata mengalir semakin deras di pipi Aqila. Tak dapat lagi membendung isak tangisnya. ia melepaskan semuanya di malam sunyi di pinggir sungai yang diam ini. dingin hawa yang menusuk tak lagi ia hiraukan. Aku hanya ingin kuliah, batinnya terus merintihkan kata-kata yang sama.

Ibu, jika memang aku tidak dapat kuliah dan menghentikan mimpiku di sini, biarlah ku hanyutkan segalanya dalam deras aliran sungai ini. aku hanya ingin kuliah, dan merajut semua mimpi-mimpiku. Maaf ibu, biarlah ku hanyutu dalam aliran ini bersama mimpiku yang tak dapat terwujud.

Aliran sungai semakin malam semakin deras, tak lagi terlihat seorang gadis tanggung duduk di pinggirannya. Gadis itu telah hanyut bersama mimpi dan keputusaasan yang mengakhiri hidupnya. Ah sayang, andai ia tau hidup bukan hanya sekedar kuliah dan mendapat niai tinggi. Andai ia tau hidup memiliki makna yang dalam jika ia bersyukur dan berpandangan baik untuk segala hal. Hembusan angin malam mengakhiri semuanya

.

berani menulis bukti berkarya aku tak menginginkan hal yang muluk menurutku sebenranya aku ingin menjadi pusat seperti dia mempunyai beribu ...