Menanti Senja
Oleh: Dwi Agustini


Tidak Semua jingga senja adalah kebahagian. Meskipun banyak yang memandangnya dengan senyuman. Deretan awan yang mengudara dengan tenang menjadi saksi bisu akan kesedihan Aqila. Andai awan-awan itu dapat berbicara, mungkin ia akan mengabarkan pada orang-orang tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Aqila. Walaupun angin lembut yang berhembus tahu pasti tentang hati Aqila.

Gadis itu duduk di tepi sungai sambil membasahi kakinya. Aliran sungai yang deras ternyata tak mampu mengalahkan sungai suci di pipi Aqila. Matanya begitu sendu, dengan wajah sedih yang tak terkira. Jika semua orang bebas bermimpi, mengapa ia tidak? Batinnya meronta. Jika tak malu, mungkin ia akan memekik sekencang yang ia bisa.

Berkeinginan kuliah seolah hal yang salah baginya. Ia bermimpi bisa mengenyam bangku kuliah, merasakan tugas-tugas menumpuk, bermain bersama teman di akhir pekan dan hal-hal lain yang selama ini didengarnya dari tetangganya yang telah kuliah. Namun, bermimpi untuk kuliah bukanlah hal yang bisa Aqila rasakan. Sehari sebelum kelulusan sekolahnya keluar, kabar dari seberang telah menyayat hati Aqila.

“Aqila, ibu sebenarnya tidak ingin memutus harapanmu untuk kuliah nak,” kata ibu pada Aqila saat senja mulai menyelimuti langit sore.

“Maafkan ibu nak, bukan ibu tak ingin menguliahkanmu. Tapi, ibu tak punya uang untuk menguliahkanmu. Sedangkan adik-adikmu masih butuh biaya,” kata-kata ibu mengiris hati Aqila.

Tak tau apa yang akan dikatakanya pada ibu. Kaki Aqila berlari menjauh. Tak sanggup mellihat ibu yang berharap besar pada dirinya. Pedih, menangis hatinya dalam diam dan uraian air mata. Di tepi sungai ia lepas dalam diamnya. Harapannya untuk kuliah, hancur bagai hujan deras di panasnya siang hari.

Malam telah duduk di singgasana hari. Namun, Aqila belum juga pulang menuju rumah. Enggan, malas ia pulang. Kenapa susah bagiku untuk bercita-cita? Salahkah aku jika bermimpi kuliah?. Aqila mengadu pada deras aliran sungai di penghujung hari.

Banyak hal yang ingin ia lakukan saat menginjakan kaki di kampus. Bukan hanya bermain-main, ia sangat ingin menyambung prestasi-prestasi yang telah didapatnya di bangku SMA. Mengikuti berbagai perlombaan, menghadiri berbagai seminar, ikut oraganisasi kampus dan banyak mimpi lain yang ingin ia lakukan. Ia pun bermimpi bisa terbang ke luar negeri dengan gratis melalui prestasinya.

Aqila teringat akan tumpukan piala di kamarnya. Kini piala itu hanya benda kosong yang tak berarti, batin Aqila dalam keputusasaan yang panjang. Untuk apa semua usahaku selama ini, aku belajar siang dan malam, mengorbankan waktu mainku hanya untuk meraih nilai yang tinggi. Tapi kini apa? Kuliah saja aku tak bisa, bagaimana aku akan meraih mimpiku yang lain??.

Bulir permata mengalir semakin deras di pipi Aqila. Tak dapat lagi membendung isak tangisnya. ia melepaskan semuanya di malam sunyi di pinggir sungai yang diam ini. dingin hawa yang menusuk tak lagi ia hiraukan. Aku hanya ingin kuliah, batinnya terus merintihkan kata-kata yang sama.

Ibu, jika memang aku tidak dapat kuliah dan menghentikan mimpiku di sini, biarlah ku hanyutkan segalanya dalam deras aliran sungai ini. aku hanya ingin kuliah, dan merajut semua mimpi-mimpiku. Maaf ibu, biarlah ku hanyutu dalam aliran ini bersama mimpiku yang tak dapat terwujud.

Aliran sungai semakin malam semakin deras, tak lagi terlihat seorang gadis tanggung duduk di pinggirannya. Gadis itu telah hanyut bersama mimpi dan keputusaasan yang mengakhiri hidupnya. Ah sayang, andai ia tau hidup bukan hanya sekedar kuliah dan mendapat niai tinggi. Andai ia tau hidup memiliki makna yang dalam jika ia bersyukur dan berpandangan baik untuk segala hal. Hembusan angin malam mengakhiri semuanya

.

berani menulis bukti berkarya aku tak menginginkan hal yang muluk menurutku sebenranya aku ingin menjadi pusat seperti dia mempunyai beribu ...