Tidak
Semua jingga senja adalah kebahagian. Meskipun banyak yang memandangnya dengan
senyuman. Deretan awan yang mengudara dengan tenang menjadi saksi bisu akan
kesedihan Aqila. Andai awan-awan itu dapat berbicara, mungkin ia akan
mengabarkan pada orang-orang tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Aqila.
Walaupun angin lembut yang berhembus tahu pasti tentang hati Aqila.
Gadis
itu duduk di tepi sungai sambil membasahi kakinya. Aliran sungai yang deras
ternyata tak mampu mengalahkan sungai suci di pipi Aqila. Matanya begitu sendu,
dengan wajah sedih yang tak terkira. Jika semua orang bebas bermimpi, mengapa
ia tidak? Batinnya meronta. Jika tak malu, mungkin ia akan memekik sekencang
yang ia bisa.
Berkeinginan
kuliah seolah hal yang salah baginya. Ia bermimpi bisa mengenyam bangku kuliah,
merasakan tugas-tugas menumpuk, bermain bersama teman di akhir pekan dan
hal-hal lain yang selama ini didengarnya dari tetangganya yang telah kuliah.
Namun, bermimpi untuk kuliah bukanlah hal yang bisa Aqila rasakan. Sehari
sebelum kelulusan sekolahnya keluar, kabar dari seberang telah menyayat hati
Aqila.
“Aqila,
ibu sebenarnya tidak ingin memutus harapanmu untuk kuliah nak,” kata ibu pada
Aqila saat senja mulai menyelimuti langit sore.
“Maafkan
ibu nak, bukan ibu tak ingin menguliahkanmu. Tapi, ibu tak punya uang untuk
menguliahkanmu. Sedangkan adik-adikmu masih butuh biaya,” kata-kata ibu
mengiris hati Aqila.
Tak
tau apa yang akan dikatakanya pada ibu. Kaki Aqila berlari menjauh. Tak sanggup
mellihat ibu yang berharap besar pada dirinya. Pedih, menangis hatinya dalam
diam dan uraian air mata. Di tepi sungai ia lepas dalam diamnya. Harapannya
untuk kuliah, hancur bagai hujan deras di panasnya siang hari.
Malam
telah duduk di singgasana hari. Namun, Aqila belum juga pulang menuju rumah.
Enggan, malas ia pulang. Kenapa susah
bagiku untuk bercita-cita? Salahkah
aku jika bermimpi kuliah?. Aqila mengadu pada deras aliran sungai di
penghujung hari.
Banyak
hal yang ingin ia lakukan saat menginjakan kaki di kampus. Bukan hanya bermain-main,
ia sangat ingin menyambung prestasi-prestasi yang telah didapatnya di bangku
SMA. Mengikuti berbagai perlombaan, menghadiri berbagai seminar, ikut
oraganisasi kampus dan banyak mimpi lain yang ingin ia lakukan. Ia pun bermimpi
bisa terbang ke luar negeri dengan gratis melalui prestasinya.
Aqila
teringat akan tumpukan piala di kamarnya. Kini
piala itu hanya benda kosong yang tak berarti, batin Aqila dalam keputusasaan
yang panjang. Untuk apa semua usahaku
selama ini, aku belajar siang dan malam, mengorbankan waktu mainku hanya untuk
meraih nilai yang tinggi. Tapi kini apa? Kuliah saja aku tak bisa, bagaimana
aku akan meraih mimpiku yang lain??.
Bulir
permata mengalir semakin deras di pipi Aqila. Tak dapat lagi membendung isak
tangisnya. ia melepaskan semuanya di malam sunyi di pinggir sungai yang diam
ini. dingin hawa yang menusuk tak lagi ia hiraukan. Aku hanya ingin kuliah, batinnya terus merintihkan kata-kata yang
sama.
Ibu, jika memang aku tidak dapat
kuliah dan menghentikan mimpiku di sini, biarlah ku hanyutkan segalanya dalam
deras aliran sungai ini. aku hanya ingin kuliah, dan merajut semua
mimpi-mimpiku. Maaf ibu, biarlah ku hanyutu dalam aliran ini bersama mimpiku yang
tak dapat terwujud.
Aliran
sungai semakin malam semakin deras, tak lagi terlihat seorang gadis tanggung
duduk di pinggirannya. Gadis itu telah hanyut bersama mimpi dan keputusaasan
yang mengakhiri hidupnya. Ah sayang, andai ia tau hidup bukan hanya sekedar
kuliah dan mendapat niai tinggi. Andai ia tau hidup memiliki makna yang dalam
jika ia bersyukur dan berpandangan baik untuk segala hal. Hembusan angin malam
mengakhiri semuanya
.
